Jumat, 07 Februari 2014

Kado Pernikahan Untuk Sahabatku


                 Berbalut seragam putih abu-abu, kisah persahabatan itu kita rajut. Satu dekade lebih telah berlalu kawan, dan saya ingat betul kala pertamakali kita berkenalan. Kamu pindahan dari sekolah dan kota berbeda waktu itu. Dari kursi paling belakang, kamu melangkah riang ke mejaku,  hendak meminjam majalah remaja. Disitulah awal perkenalan kita. Dua belas tahun yang lalu. Dengan kotak sejuta mimpi, engkau datang  menawarkan tinta persahabatan
            Tiga tahun kita melewati hari-hari bersama di bangku sekolah. Berbicara panjang tentang musik, Novel Kahlil Gibran, dan band favorit kita (Sheila on7) menjadi santapan hari-hari. Kita memiliki kesamaan untuk tiga hal ini. Pembicaraan kadang melebar ke guru Kimia dan Biologi yang terkenal ‘killer’, atau pelajaran yang melihat rumus-rumusnya seperti membuat kepala sontak migrain, atau gosip cowok & cewek beken di sekolah. Jiwa kita selaras dalam banyak hal.  Kita sering menghabiskan waktu berjalan di sepanjang Pantai Senggol. Ketika jam les sore selesai, sembari melihat-lihat boneka-boneka bekas dari negeri seberang yang dijual bebas sekitar pantai.Hehe. Kamu sering berujar, kelak masa ini akan kita rindukan.

             Lepas SMU, kita berbeda haluan. Berbeda kampus tak membuat persaudaraan kita mengendor. Kesibukan kuliah memang mengurangi perjumpaan kita. Tapi, syukurlah kemajuan teknologi bisa menampik masalah itu. Pun, kita masih sekota. Humm, tema pembicaraan pun mulai berubah. Ketertarikan dengan lawan jenis menjadi wajar di usia yang menginjak dewasa. Kita sering tertawa cekikikan membahas itu.  Setumpuk tugas kuliah, dosen ‘killer’,diktat-diktat yang belumlah tuntas dipelajari menjadi keluhan kita kala bertemu. Saat itulah, kamu memperkenalkan seorang laki-laki yang membersamaimu hingga kini. 
Mengisahkanmu, seperti menceritakan diriku sendiri. Di jiwaku, bersemayam jiwamu. Pun sebaliknya. Saya seperti ‘hidup’ dan tak ingin melepas malam berlalu cepat, jika bersamamu. Kita telah mendaki gunung kesedihan, menempuh laju kehidupan yang selalu tak mulus. Membangun mimpi masa remaja dan dewasa bersama-sama. Bersisian di tengah arus modernitas yang semakin menggila. Kita bergandengan tangan mem-filter pengaruh-pengaruh buruk yang bisa kapan saja merusak cita dan cinta kita. Kita. Remaja tanggung yang belumlah makan asam garam kehidupan.  Beruntung, orang tua membekali kita dengan pondasi agama. Terlebih, dirimu sempat menimba ilmu agama di pondok pesantren. Jadi kita saling mengingatkan dan menegur demi kebaikan bersama.
            Memang benar, ucapan banyak orang bahwa jika ingin menilai corak kepribadian seseorang, maka kenalilah sahabatnya. Kepribadian kita nyaris sama. Ditakdirkan bersama sebagai anak sulung, mungkin menempa kita menjadi pribadi yang cepat dewasa dan mandiri.  Saya tak lagi memperdulikan, bahwasanya orang sedarah atau sesusu-lah yang dikatakan saudara kandung. Kamu lebih dari saudara kandungku. Persahabatan kita sungguh manis dan hangat. Kamu mencintai keluargaku, begitupun aku mencintai keluargamu. Bukan persoalan intensitas kebersamaan yang terlalu sering, menjadi syarat melekatnya titel sahabat. Tetapi, siapa yang setia dan selalu ada. Itulah kamu. Belum lagi pengorbanan dan perhatian, meskipun itu hanyalah secuil tapi mengandung pesan kasih yang dalam. Kamu sering menanyakan kabarku, kesehatanku, kerjaan, kesehatan orangtuaku, hingga kucing kesayanganku. Meskipun jarak dan kesibukan telah membungkam jam-jam kita.
Friend Forever
Di tepi Pantai Senggol, di bawah temaram malam dan gerimis yang membungkus kita. Tangisku sempat meledak. Kamu tahu itu. Aku harus mengikhlaskan selamanya seseorang, yang bahkan sedetik pun tak bisa lepas dari alam sadarku. Kamu memegang tanganku erat, sangat erat. Memeluk piluku. Hingga bisa kurasakan, luka mendalam itu telah terbagi. Deru ombak jadi saksi kepedihan kita berdua. Aku sangat merasakan itu. Tiba-tiba teringat pesan Rasulullah SAW, persaudaraan kaum muslimah adalah seumpama satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka mengakibatkan seluruh tubuh menjadi demam dan tak bisa tidur. Itulah kita. Aku selalu saja merasakan gurat-gurat kesedihan menggelayuti wajah ayumu, ketika mendengar ceritaku. “Kamu adalah orang yang paling beruntung di dunia ini, Shel. Banyak yang menginginkan di posisimu”, ujarmu ketika kunyatakan jenuh dan rasa frustasiku yang hebat dengan pekerjaan. Pun ketika kebaikanku di cabik-cabik orang lain, dirimu hadir bak malaikat. Bahwa sesungguhnya tidak ada yang sia-sia di dunia ini, apalagi amal kebajikan. Kelak, akan dibalas jua dengan kebaikan berkali lipat. Meskipun tidak sekarang. 
Kamu penyemangat jiwaku yang gampang ambruk. Bahkan ketika orang-orang mengatakan aku jelek, kamu berbisik di telingaku kalau aku sesungguhnya bidadari nan jelita. Ketika orang bercerita keburukanku, kamu membalas dengan segudang cerita kebaikanku. Ketika orang-orang bercerita ketidakberuntunganku soal jodoh, kamu berbisik bahwa Tuhan menyimpankan aku orang yang teramat special, karena sesungguhnya aku adalah jiwa yang special dan kaya(kaya akhlak). Ahggg, aku mulai rindu dengan tutur sejukmu.
 Sangat sering pula, aku membangunkan tidur nyenyakmu di pertengahan malam, atau saat ayam-ayam telah berkokok mendahului indahnya lantunan  subuh para mu’adzin. Aku tak mengenal waktu dan tempat jika linglung.  Yang terlintas di kepalaku, selain Ayah Ibu adalah lembut suaramu. Nasehat-nasehatmu seperti oase di padang pasar. Menyejukkan dan meredam letih. Terkadang, engkau membiarkanku dulu tertawa lepas ataukah menangis sejadi-jadinya. Kemudian memberikan komentar. Kamu memang pendengar terbaik yang pernah kumiliki. Rasa-rasanya jiwa yang memendam suatu gejolak berat, akan plong jika dikeluarkan dihadapanmu.
Subuh itu, ketika aku terbangun dan mendapati pesan BBM mu. Sang pangeran hati akan meneruskan niat baiknya untuk meminangmu menjadi pasangan hidup. Hal yang telah lama kau impikan, dan menjadi doa kita. Tak terlukiskan rasa bahagiaku. Doa-doa telah dibaca Sang Pemilik Langit. Kebersamaanmu dengan kekasih hati selama delapan tahun mendapat ridho-Nya. Usai acara Pettuada, aku dan Ibundamu dibungkam rasa bahagia dan haru. Mata kami berkaca-kaca. Bahagia karena  sebentar lagi kamu akan mengecap kebahagiaan baru, menyimpul tali-temali cinta dengan pasangan hidupmu. Akan ada yang mengimami shalat dan hidupmu.
Namun, rasa sedih itu tak bisa kami tepis berdua. Selepas akad nikah, kamu akan terbang ribuan kilometer dari kami. Hidup menjauh ke wilayah tengah Papua. Tepatnya di Wamena, Ibukota Kabupaten Jayawijaya. Daerah yang sangat sulit dijangkau, dan terisolasi diantara gunung-gunung menjulang yang sangat hijau. Serta bergantung  pada transportasi udara. Ini yang membikin aku dan ibumu sedih. Belum lagi wabah penyakit Malaria yang menjamur di wilayah ini. Namun ini sudah jalan Sang Khalik. Kamu akan turut mendampingi suamimu  bertugas di daerah terpencil itu. Entah sampai kapan. Membangun istana cinta bersamanya.
Menjelang Akad Nikah Ayu
Di tengah-tengah euforia menjelang akad nikahmu, hati saya dihimpiti kelu. Tak lama lagi, kita akan berpisah. Secara jarak dan waktu, tembok pemisah itu semakin jelas membentang. Aku tidak tahu akan menemukan jiwa sepertimu dimana lagi. Kawanku berserakan, namun keikhlasan itu saya temukan seutuhnya di sosokmu. Aku  disisipi rasa takut, takut merindu. Karena ini bukan persoalan Maros-Pare yang bisa ditempuh dengan cepat dan mudahnya. Namun, aku selalu membesarkan hati sendiri. Perkembangan teknologi makin canggih dewasa ini. Kita bisa berkomunikasi via media sosial dan apapun itu bentuknya. Jiwamu akan selau hidup bersamaku, sahabat.
Rasa haru itu berubah bahagia dan syukur yang luar biasa, tatkala suara pangeranmu lantang menuntaskan  qabulnya dalam sekali tarikan nafas. Dia telah berjanji di hadapan Allah SWT, dengan miitsaqan gholiidhan ‘disaksikan para malaikat, untuk menjagamu. Mencintai dan memperlakukanmu sebaik-baiknya istri. Kelak, dia akan menjadi pintu kebaikan untukmu dan anak-anakmu. Maka, sudah seharusnya aku menghapus risau itu. Orang yang tepat, telah dipilihkan Allah untuk menemani hari-harimu. Orang yang sangat baik. Allah telah membuktikan janjinya, Ayu! Perempuan yang baik, hanya untuk Laki-laki yang baik.   Selamat berbahagia saudarariku. Semoga rumahmu kelak ibarat syurga, dikelilingi kasih sayang dan anak yang saleh salehah yang selalu mengangungkan asma Allah. Dan tentang persahabatan kita. Bukankah di jiwaku, bersemayam jiwamu. Begitupun sebaliknya.

Minggu, 17 November 2013

Cerita Tentang Motor Dinas



      Minggu adalah saat yang dinanti banyak orang. Para pekerja, siswa, mahasiswa, dan entah siapapun pasti menyenangi kala berakhir pekan. Saat yang tepat untuk meluruhkan segala penat setelah seminggu beraktifitas. Bercengkrama sepanjang hari bersama keluarga, teman, dan orang terdekat.  Mengakrabkan diri dengan hobby. Atau minimal, minggu adalah waktu untuk memanjakan(baca: perawatan) diri.
                Tapi yang terjadi pada sebagian orang tidaklah setenang itu itu. Kami contohnya, sebagai ujung tombak data statistik, kami kerap menggunakan segala waktu untuk mengumpulkan data primer dari responden rumah tangga, industri, kontraktor, dsb. Tuntutan pekerjaan yang harus tepat waktu. Memaksa kami untuk kreatif mencacah (baca: mendata) di lapangan, dan pintar-pintar mencari celah waktu yang tepat, untuk melunasi segala survey maupun sensus. Seperti yang terjadi minggu ini. Kami sudah dipastikan menggunakan waktu libur untuk bekerja. Hal ini karena banyak kegiatan ad-hoc yang menumpuk di bulan ini. Dan karena deadline pekerjaan yang semakin dekat, ditengah beban kerja yang bejibun. Tapi bukan sekelumit kisah itu yang hendak saya bagi, melainkan tiga peristiwa hari ini  yang  sedikit mengusik, sekaligus menentramkan hati.
                Sebagai petugas lapangan, kami diberi beberapa fasilitas oleh negara. Salah satunya ialah motor dinas. Ketika langit lagi-lagi cerahnya, terbayangkan minggu tenang ini adalah saat yang pas untuk menyelesaikan beberapa survei yang tertunggak, dikarenakan beberapa responden baru berada di rumah ketika hari minggu. Di tengah perjalanan, saya singgah di sebuah swalayan mini di batas kota untuk membeli sebotol air mineral dan beberapa cemilan, sebagai bekal masuk mencacah ke sebuah desa.  Maklum, kadang warung-warung kelontong jarang kita temui ketika berada di pedalaman rumah penduduk. Pun jika ada, kue atau minuman tersebut telah expired ataukah melempem. Di parkiran motor, saya seperti mendengar petir di siang bolong, tatkala seorang Ibu paruh baya yang berpakaian sangat elegan lengkap dengan high heel nya berkomentar sarkastik. Tatapannya menusuk tah hanya sampai di mata, tapi sampai di palung hati . “Motor dinas itu dipakai bekerja, bukan dipakai berhari libur.”
                Sungguh jika bukan karena beliau lebih tua dari saya, mungkin saya akan membalas sebaris ucapannya itu  dengan segudang pembelaan. Tapi saya lebih memilih tersenyum  dan berlalu. Karena menyanggah ucapannya pun percuma. Ransel punggung yang berisi belasan kuesioner tidak akan menjawab ocehan Ibu itu. Paling dipikirnya, bahwa tas ransel itu berisi pakaian yang hendak kubawa berlibur. Menjelaskan bahwa saya akan mengunjungi sebuah desa dengan jarak tempuh 18 km dari pusat Kota Maros, pun percuma. Hanya buang-buang waktu. Saya membeli minuman dan makanan secepatnya, dan segera pergi meluncur blusukan ke pedalaman kabupaten. Semangat yang tadi sempat meletut-letup kini goyah. Sebaris ucapan Ibu itu sungguh menohok. Justru sebaliknya, minggu damai ini saya menyerahkan raga ini untuk kepentingan dinas. Mengorbankan segala janji dengan sahabat. Batin saya merintih tak terima.
Tidak semua kebaikan yang kita gunakan harus digembar-gemborkan. Pun, tidak ada satu pasal pun yang memidanakan orang yang berplat merah di hari libur, bakal dijatuhi sanksi atau tindakan hukum. Ini hanyalah persoalan etika moral dan kode etik profesi yang memayungi. Seyogyanya, kita memiliki rasa malu jika memanfaatkan aset negara yang bukan untuk peruntukannya. Atau mendahulukan kepentingan pribadi dengannya. Sampai di sini, saya mencoba menjernihkan nalar saya. Ibu itu tidak sepenuhnya salah, karena tidak semua orang tahu akan ritme kerja kita. Saya pun paham betul, segala fasilitas negara itu berasal dari uang rakyat melalui APBD/APBN. Konsekuensinya adalah,  tanggungjawab adalah harga mati untuk menyelesaikan segala kewajiban terkait kinerja.
Motor berlaju, hingga mata saya tiba-tiba tersadar akan jarum merah penunjuk volume bahan bakar, berada sedikit di bawah garis merah. Beruntung 200 meter di depan, ada  Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Lagi, telinga saya kembali dibuat berang oleh celoteh orang norak nan kepo. Saat hendak menunggu uang kembalian dari petugas SPBU. Seorang Bapak berkumis tebal dengan tubuh gempal, duduk di samping supir yang mobilnya nyaris menyentuh ekor motor saya. Dengan wajah gusar, dia tak sungkan langsung menghardik saya.” Kalau isi bensin motor bukan di sini Bu, tapi di sebelah,” tangannya sembari menunjuk antrian pengisian BBM subsidi premium. Dalam hati saya berujar, apakah Bapak ini tidak tahu membaca atau tidak sabaran menunggu untuk secepat mungkin diladeni. Padahal, saya hanya menunggu uang kembalian sisa pembayaran BBM pertamax saja. Dan sangat terpampang jelas, informasi mengenai kewajiban pemakaian bahan bakar pertamax untuk kendaraan dinas.
Saya tersenyum menimpali, dan mengarahkan jari telunjuk  pada secarik lembar informasi  yang tertempel. Saya bisa saja, membalas hardikan Bapak berkumis itu. Tapi rasa-rasanya enggan saja melakukannya. Ngeri melihat muka sinisnya. Pemerintah memang telah mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM nomor 1 Tahun 2013 tentang pengendalian penggunaan bahan bakar minyak. Yang intinya larangan menggunakan BBM subsidi untuk segala kendaraan plat merah, BUMD, dan BUMN. Dimana perubahan harga bahan bakar yang tadinya hanya 4 500 per liter, kini beralih menjadi 11. 800 per liter. Meskipun seluruh SPBU di negeri ini, sudah dipastikan menolak mengisi bahan bakar premium bersubsidi untuk kendaraan plat merah. Kita bisa saja mengisinya di bensin eceran yang dijual umum di pinggiran jalan. Tapi ini persoalan moral pribadi dan etika profesi kita. Biarlah selisih dari lonjakan harga BBM itu kita tanggung sendiri, selama tidak merugikan rakyat kecil.
Dua peristiwa pagi ini seperti ucapan yang sepersekian detik mematikan semangat. Aghh, hari minggu ini harus berlanjut. Dengan target kerja yang harus terealisasi. Saya hampir lupa, bahwa masing-masing orang memiliki penilaian yang berbeda terhadap apa yang kasat mata dilihatnya, tapi tak diketahuinya.
Semua berjalan sesuai target dan ilusiku. Tidak salah mengorbankan hari libur ini. Semua pekerjaan selesai  sesuai target. Peduli amat dengan dua orang yang sok tahu pagi tadi. Toh, lebih penting merayakan keberhasilan hari ini. Perjalanan pulang, dicekik rasa haus, saya singgah di sebuah warung kecil nan sepi. Namun karena posisi tanah yang agak miring, dan cara standar motor saya yang tak sempurna. Motor seketika ambruk dan segala ole-ole berupa mangga dan kue dari responden, berserakan di mana-mana. Sungguh saya tak kuat mengangkat motor itu, dibantu oleh anak si penjaga warung pun tetap tak kuat. Dan untuk beberapa menit, tak seorang pun pengendara motor lewat untuk kumintai pertolongan.
Hingga seorang kakek yang kutaksir berumur 65 tahun, tengah mendorong sebuah gerobak kecil berisi segopok kayu bakar. Datang  mendekat dengan sisa-sisa tenaganya. Mengambil alih setir motor, dan mencoba perlahan  mengangkatnya hingga berdiri tegak. Dengan nafas tersengal, dia tersenyum dan menyarankanku untuk lebih hati-hati. Peristiwa yang sederhana, tetapi sungguh menyentuh mata batin ini. Terimakasih telah menolong. Dalam hati, saya mendoakan segala kebaikan untuk kakek itu. dan dua peristiwa pahit tadi seketika hilang oleh sebuah kebaikan kecil sore ini. J

Selasa, 22 Oktober 2013

Jangan Tanya ‘Kapan Saya Menikah!’



          Menikah, adalah hal mutlak yang sudah pasti diimpikan semua manusia-manusia dewasa. Kaum perempuan, boleh jadi pemimpi terbanyak yang ingin merasakan indahnya berumah tangga. Dilandaskan  keinginan untuk memiliki pelindung dan pemimpin di balik kelemahannya. Di usia yang tak lagi remaja, tentunya menikah menjadi pilihan tebaik untuk lebih menyempurnakan selagi menyeimbangkan hidup. Dan banyak kejadian, rezky orang (terutama laki-laki sebagai kepala keluarga) justru akan terbuka lebar setelah Ia menikah. Rezky sang anak, bisa jadi diturunkan Allah melalui orangtua.
      Dalam Al-Qur’an pun jelas menyerukan menikah (Q.S AR-Ruum:21). “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya diciptakan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu mendapat ketenangan hati ,dan dijadikan-Nya kasih sayang diantara kamu.

Tapi yang  perlu digarisbawahi ialah bahwa tak hanya rezky dan kematian saja yang  misteri. Jodoh adalah termasuk urusan yang sangat misterius. Semua tergantung dari izin dan ridho Sang Khalik. Mengenai perjumpaan, kemudahan, kesulitan, dan jalannya pun tak ada satu manusiapun yang bisa menebak. Dalam banyak hal, semua rencana bisa terbalik seperti membalikkan telapak tangan. Perjuangan bertahun-tahun untuk merengkuh calon pasangan sebagai jodoh, bisa jadi gagal secepat kilat. Begitupun perjumpaan yang secepat kilat, bisa berbuah datangnya jodoh yang tak disangka-sangka. Sangat rumit untuk bisa menerkanya. Dan terlalu pongah, jika bisa menunjuk seseorang adalah jodoh sejati kita. Tuhan adalah perancang skenario terbaik untuk hamba-hambanya.
            Beruntunglah mereka, yang di usia idealnya telah menemukan belahan jiwanya. Hidup indah, dan dikarunia buah hati pelengkap kebahagiaannya, buah hati sebagai generasi yang kelak bisa menghubungkannya ke  syurga. Tapi hidup selalu adil untuk orang-orang yang senantiasa bersyukur. Sejuta kebahagiaan besar lain tak boleh dikesampingkan, meski kebahagiaan berumahtangga belum di genggaman. Terhadap mereka yang di ambang umur masihlah sendiri, belum menemukan pendamping hidupnya. Selalu saja ada pertanyaan kenapa Tuhan belumlah mengirim manusia terbaiknya. Apakah benar, menikah adalah hak prerogatif masing-masing orang!  Wallahu A’lam. Semua tentu atas izin-Nya.
Sepasang Pengantin
Terlambat menikah terkhusus bagi kaum perempuan,  seperti momok menakutkan yang kerap menghantui hari-hari. Apalagi paham primordial yang kerap memojokkan, mencibir, dan melekatkan label ‘tidak laku’ dikarenakan belumlah menikah. Hal ini tentunya menambah beban psikis yang ditanggung sang perempuan. Tidak ada satu perempuan di muka bumi ini yang secara naluri tidak ingin mengecap nikmatnya berkeluarga. Bersama-sama pasangan hingga usia senja, dan menjemput sukses bersama-sama. Semandiri-mandirinya seorang perempuan, dia tetap membutuhkan seorang pebijaksana yang bisa menenangkannya menghadapi getirnya hidup. Sebaliknya pun demikian. Setangguh-tangguh dan setingginya jiwa petualang pria, kelembutan perempuan tetap dibutuhkannya untuk membangun semangatnya.
        Pertanyaannya kemudian, apakah cepat menikah menjadi tolak ukur kebahagiaann seseorang. Lantas, yang belum menikah hanya menjadi sang pujangga malam yang  hanya duduk termangu‘menunggu’? Miris memang, ketika kita menyikapinya dengan pikiran dangkal. Serasa mendikte Allah agar cepat-cepat dikirimkan pasangan yang diinginkan.
Umur saya menjelang 26 tahun saat menulis ini. Dan saya menulis ini sebagai bahan renungan, dan instrospeksi diri di masa penantian mendapat jodoh dari Illahi. Izinkan saya mengurai apa yang tertanam di hati saya saat ini. Mungkin hal yang sama juga dirasakan oleh sebagian perempuan. Ketika satu pertanyaan yang bisa seketika menohok ke sanubari terdalam. Pertanyaan yang ketika terlontar membuat kelu seluruh urat syaraf. Pertanyaan yang bisa tumpah ruah kapan dan dimanapun kita berada. Kapan Menikah?
Kamu tahu tidak, dentuman yang saya rasakan ketika mendengar  rekan seumuran  satu-persatu telah menemukan kekasih halalnya. Silih berganti undangan pernikahan teman menjadi trend menyambung silaturahmi. Kamu tahu tidak, getir teramat dalam, kala menghadiri acara aqiqah anak pertama, kedua, bahkan ketiga teman sepermainan kita ? Kamu tahu tidak, tangis yang terbendung kala menyaksikan bocah kecil dengan tingkah khas nya merengek-rengek kepada ayah ibunya yang merupakan teman seangkatan kita. Rasanya seperti ditampar berkali-kali. Pemandangan yang sangat indah di depan mata. Tetapi di bagian lain ada bagian tubuh yang merasakan perih tersayat-sayat.
            Saya bukannya tak senang melihat itu, kawan. Justru saya sangat bahagia melihat potret kemesraan kalian. Sangat. Hingga lirih di lubuk hati terdalam menginginkan kebahagiaan yang terpampang itu bisa berlangsung selama-lamanya.Tapi, bukankan kita diciptakan dengan naluri cinta yang mendalam. Jujur, saya ingin sama dengan kalian. Saya ingin berada di posisi itu juga. Saya ingin mengecap nikmat kebersaman yang juga kalian rasakan. Terkadang di tempat keramaian, jujur batin saya merintih. Laksana formasi  bintang nan indah di atas sana, orang di sekeliling kita telah berhasil memetiknya. Dan saya masih terjebak oleh pusaran waktu. Tapi bukankah, jauh di atas sana ada Sang Maha Tahu, kapan waktu yan tepat mengabulkan do’a hamba-hambanya.
Berharap terlalu besar kepada sesama manusia pun, bukan opsi yang tepat untuk membuang kegalauan itu. Sebab, ketika harapan itu kandas di tengah jalan, kekecewaan dan depresi yang akut malah akan menerkam. Dan tentu saja akan berpengaruh terhadap aktifitas keseharian kita.
Saya telah melewati  itu, menggantungkan harapan setinggi-tingginya kepada sesama manusia. Dan ketika hal itu di luar ekspektasi kita. Maka yang terjadi apa?Rasa kecewa itu akan beranakpinak. Menggerogoti seluruh ruang-ruang positif dalam diri. Hingga ruang negatif penghasil pikiran negatif lah yang akan kita dapatkan. Ibarat pepatah, sudah jatuh malah tertimpa tangga pula. Dan alhasil, segala hal yang menjadi penyebab kandasnya harapan kita menjadi penilaian negatif yang diputuskan mentah-mentah. Tragis memang.
Persoalan jodoh, Tuhan memang begitu cerdas menguji kesabaran kita. Saya bahkan sempat lupa, bahwa Tuhan tidak akan membiarkan hambanya berlarut-larut dalam kesengsaraan dan kesendirian, kecuali akan ada kebahagiaan besar yang menghampiri. Ajaib bukan! Akan ada kebahagiaan besar yang disimpan Tuhan. Mari mengindahkan diri dalam kesabaran. Jangan terlalu fokus pada persoalan pernikahan, siapa yang kelak akan menjadi jodoh kita biarlah menjadi wewenang Sang Khalik. Dia sungguh telah menjaminnya dalam Al-Qur’an Q. S An-Nur :26. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”. Sudah pantaskah kita menjadi dan mendapatkan yang baik itu? Dan lagi, introspeksi diri adalah jawabnya.
Yang menjadi persoalan adalah kita hanyalah perempuan biasa yang  terbentuk dengan kelemah-lembutannya. Ketahuilah Kawan! Pertanyaan kenapa belum menikah itu, sungguh merobek ketegaran. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita focus meng-upgrade diri. Terus menambah kualitas diri, mengumpulkan ilmu dari beragam penjuru, mengasah bakat yang sempat terbengkalai, dan yang utama menjadi pribadi dan muslimah yang baik di mata Allah. Saya tak risau sedikitpun dengan janji Allah tentang jodoh. Saya hanya risau dan takut, ketika tak bisa menahan tangis di hadapan kalian, saat pertanyaan ‘Kapan Menikah’ itu berdengung hebat.
Pertanyaan itu seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Meski  sadar, pertanyaan itu  tak lebih dari bentuk kepedulian orang-orang yang menyayangi kita. Tapi cukuplah saya menyimpan kerinduan dalam bait-bait doa, berlinangan bercerita hanya di depan Sang Khalik, menyimpan segala rindu itu di sepertiga-sepertiga malam. Serta senantiasa bersyukur akan sejuta nikmat yang lainnya. Tapi tolong sekali lagi, jangan mengoyak ketegaran ini dengan pertanyaan,‘Kapan Menikah’.




Senin, 07 Oktober 2013

Bunga yang Cantik & Tangguh



Alisnya tebal.  Diperindah dengan bulu mata yang lentik. Bibir yang tipis menyempurnakan pesona ayunya  kala menyunggingkan senyum.  Mata sendu dengan hidung yang nyaris bangir, menambah kesempurnaan estetika di wajahnya. Ditambah postur tubuh yang tinggi padat dengan kulit putih yang melekat.  Rambut panjang indahnya terurai menyentuh setengah lengannya, memberi keanggunan tersendiri  jika melihatnya berlenggok.
Dialah Bunga, teman baik saya selama hampir dua setengah tahun ini. Pekerjaan saya yang menuntut analisis data pengunjung hotel tiap bulannya, mengantarkan saya menjalin hubungan baik dengan perempuan ramah ini. Dia sebagai staf administrasi sebuah hotel kelas melati di daerah saya. Dan melalui dia-lah , rekapan data hotel itu saya kumpul tiap bulannya. Kami sering berdiskusi panjang, dari  masalah tamu hotel yang cerewet, tamu yang makin sedikit,  hingga perkembangan hotelnya yang stagnan. Dan sudah dipastikan, tawa renyahnya pasti melekat manis sepanjang obrolan kami.
Usia  yang seumuran, membuat kami memiliki banyak kesamaan sebagai perempuan. Umur kami hanya terpaut tiga bulan. Obrolan-obrolan kami selaras, dalam banyak hal. Dia ternyata lebih dewasa dari yang kusangka. Ketika bertemu dengannya, kami saling tertawa lepas. Menghayalkan banyak hal, mengoreksi kenakalan-kenakalan masa lalu, mengimpikan masa depan yang penuh bahagia, dan mencurahkan sekantung asa tentang pendamping hidup. Untuk soal ini, kami menguraikannya dengan waktu dan tawa yang panjang. Maklum, kami dengan kesamaan umur di seperempat abad tentunya memiliki harapan yang sama soal pendamping hidup kelak. Kami berdua masih sendiri, itu yang saya ketahui.
Memiliki kepribadian ekstrovert membuat saya blak-blakan dengan semua teman. Terkhusus dia, yang menjadi teman baik saat ini. Saya memilihnya sebagai tempat mencurahkan segala kesedihan, kesal, dan kecewa. Apalagi kesamaan kami yang berada jauh dari orangtua. Dia begitu dewasa mencerna setiap masalah yang saya ceritakan, dan memberi solusi dan jalan keluar terbaik. Belum lagi nasihat-nasihat bijaknya yang seperti angin sejuk. Sejuk karena dia menyarankan melihat semua masalah dari perspektif positif. Tidak menyalahkan keadaan, sebaiknya memintaku untuk senantiasa bersyukur akan masalah-masalah yang menghadang.” Bukankah husnudzon itu menyejukkan jiwa? Tuhan itu pintar”, itu kalimat andalannya tiap kali saya berbagi cerita pahit.
Tak jarang saya bertanya padanya. Apakah kamu tidak punya masalah selama ini. Saya rasa-rasa kok hidupnya datar-datar saja. Tidak pernah bahkan dia menceritakan satu peristiwa pahit yang dialaminya. “Apakah kamu tidak percaya dengan saya?” Tanyaku tiap kali kudesak kenapa tidak pernah berkeluh-kesah padaku. Bukankah kita bersahabat. Saya pun ingin tahu tiap potongan hidupnya, entah itu suka maupun duka.  Karena tiap kali bertemu, obrolan kami hanya membahas seputar potret kehidupan saya. Tentang keluhan-keluhan saya, tentang hubungan vertikal saya dengan Tuhan, dan permasalan horizontal saya dengan sesama manusia. Dia pun hanya semangat bercerita tentang keluarga besarnya di Kabupaten Barru, saudara-saudaranya yang menyebar, tentang kebahagiaannya bekerja di hotel kelas melati meski dengan gaji standar,  tentang tipikal pimpinannya, tentang keinginannya berhijab yang belum bulat, tentang kenyamanan tempat kost-nya, dan tentang masa depan indah yang diyakininya.
 Dia menceritakan semua dengan energi dan sudut pandang yang positif. Seolah-olah Tuhan tidak memberinya sekaliber masalah dan ujian hidup. Seolah-olah tidak ada kegetiran di muka bumi ini. Masalah hanyalah kamuflase dari sebuah kebahagiaan besar yang dijanjikan Tuhan. Temanku ini benar-benar menikmati bagian hidupnya  dengan rasa bahagia yang melimpah. Senyumnya yang terus mengambang seolah memancing justifikasi akan hidupnya yang senang, berbalut sukacita. Saya benar-benar iri dibuatnya. Yang sangat tidak bisa menyembunyikan tiap masalah yang sedang berkecamuk di hati. Saya yang doyan mengeluh, sangat bertolak belakang dengannya yang pandai bersyukur.
Saya kadang usil dan mengganggunya. Pasti dengan rupa cantik nan jelita itu, dia memiliki banyak fans yang memujanya. Dia lagi-lagi dengan jurus andalannya. Tersenyum dan berujar bahwa Tuhan itu pintar. Dia tahu kapan waktu yang tepat melepas hambanya dari kesendirian. Sendiri telah dipilihnya dari dulu. Telah bertahun-tahun. Tidak penting memikirkan soal pasangan. Karena menikmati proses hidup itu lebih indah. Bersyukur adalah juaranya. Saya benar-benar terperangah mendengar jawabannya. Dia cantik dan menarik, tetapi lebih memilih sendiri, di usia yang sudah sangat matang.
Hingga dua tahun hubungan persahabatan kita. Satu waktu, saya tiba-tiba ingin bertandang ke tempat kost-nya. Dia memang pernah menceritakan letak tempat kost-nya yang sangat mudah ditemukan di perbatasan kota. Dan saya dengan mudahnya bisa mendapatkan alamat yang dimaksudnya. Yah, dari dulu memang dia kerap menawariku bertandang ke tempatnya. Untuk mengetahui lebih dalam lagi kebahagiaannya, katanya waktu itu.
Hingga sebuah fakta mengejutkan akhirnya menyadarkan saya. Dari sebuah bilik kamar triplek yang disewanya dengan ukuran 3x4 m. Di sudut-sudut kamar dipenuhi dengan boneka-boneka pink, robot mainan, tas sekolah anak-anak, buku-buku yang berserakan, serta peralatan makan yang seadanya. “Bunda, ada temanta”, lantang seorang bocah laki-laki.  Kenyataan ini seperti menampar saya seketika. Inikah kebahagiaan lain yang Bunga maksud. Diumur yang sama denganku, dia harus membagi perhatiannya dengan dua bocah sekaligus. Seorang diri. Rasa-rasanya saya tak berniat untuk membayangkan posisinya. Saya menatapnya tajam.  Lagi, dengan senyum renyahnya dia menjelaskan. Ini kebahagiaannya. Hidup bersama dua orang anak kandungnya. Anak pertamanya perempuan, yang telah duduk di kelas 1 SMP, dan yang kedua bocah laki-laki yang masih duduk di kelas V SD.
Dia menjelaskan semuanya. Duduk di bangku SLTP Kelas III, Ia dijodohkan dengan seorang laki-laki yang usianya 20 tahun lebih tua darinya. Umurnya masih  14 tahun kala itu. Dia menerima saja kemauan orangtuanya. Pernikahannya langgeng hingga dikaruniai anak kedua. Sebelum akhirnya dia harus menyerah pada badai besar, yang meluluhlantakkan rumah tangganya. Umur yang belumlah matang membuat matanya terbuka lebar. Dia terperangkap dalam situasi itu. “Menikah itu persoalan kecocokan jiwa, Shel, kami tidak cocok dan tolong jangan tanyakan mengapa,” jawabnya datar ketika kuusik soal nasib buah hatinya setelah memutuskan pisah dengan sang suami.  
Saya hampir tak pernah membayangkan kondisi rumit yang ternyata mengiringi hidup Bunga. Hidup bertiga dengan dua anak kandungnya. Tanpa subsidi se sen pun dari mantan suaminya yang telah menikah lagi. Dia harus membanting tulang. Menyekolahkan buah hatinya setinggi-tingginya. Dan menerima semua pemberian Tuhan ini dengan penuh sukacita. Ya Tuhan. Airmata saya seolah tertampung, menahan perih yang dialami Bunga. Masalah-masalah yang selama ini saya ceritakan padanya, seolah tak ada apa-apanya dengan tanggung jawab besar yang dipikulnya. Saya benar-benar tak habis fikir. Ada rahasia besar yang tersembunyi di balik senyum renyahnya selama ini. Bagaimana bisa, di ruang sempit itu, dia bisa mengelola hidup dengan dua bocah kecil. Membagi perhatiannya. Bagaimana bisa dengan gaji yang hampir hanya seperempat dari gajiku, dia bisa menghidupi dua nyawa yang masih di bawah umur!Bagaimana bisa, diumurnya yang sama dengan umurku, dia bisa mengontrol anak gadisnya yang menginjak remaja! Bagaimana bisa dia melalui malam-malam kelam bertiga tanpa seorang kepala keluarga! Apakah dia tidak takut ancaman kriminal yang mengintainya tiap saat!
Saya makin iri dengan Bunga. Dia membuktikan dirinya tak hanya cantik, tapi juga tangguh. Saya pun jujur, tidak tahu akan berbuat apa jika berada di posisinya. Mengurus diri sendiri saja masih repot, apalagi harus mengurusi dua anak yang sedang tumbuh berkembang. Saya dengan sensitifitas yang tinggi, dengan mental kerupuk, dengan keluhan yang panjang, dengan kejengkelan terhadap orang-orang yang tidak bisa mengerti saya. Ternyata hanyalah secuil dari sebongkah kenyataan pahit Bunga. Tapi justru sebaliknya, dia sangat menikmati itu. Hidup bersama dengan buah hatinya di ruang yang sempit, mengejar masa depan yang cerah. Tapi senyum lagi-lagi bisa mewakili kebesaran hati Bunga. Bukan air mata, atau rentetan keluh kesah seperti yang kerap kuperlihatkan. Saat hendak pulang, saya bertanya. “Apakah pendapatanmu cukup membiayai anak-anakmu?” Dan dengan senyum cantiknya dia menjawab, “Tuhan itu pintar, termasuk pintar mengurusi rezky anak-anakku.”


7 Oktober 2012