Jumat, 31 Mei 2013

Komunitas dan Kokokan Ayam Ketawa


Perbedaan itu memang ada. Tapi bukankah masing-masing dari kita cenderung merapat dalam persamaan. Persamaan visi misi, bakat, dan kecintaan membuat kita lebih nyaman mengeksplor semua keinginan. Komunitas, adalah wadah paling tepat mencurahkan semua persamaan yang ada. Tak terkecuali, komunitas pecinta ayam ketawa.
Suasana nyaman, bahagia, tentram dan harmonis tentunya menjadi dambaan setiap orang. Atmosfer itu terbangun ketika kita memiliki kesamaan satu sama lain.  Tak hanya dalam keluarga, bersatu dengan orang lain dalam sebuah komunitas, akan membuat energi positif kita keluar. Karena dengan ini, kita bebas berimajinasi dalam bingkai kreatifitas yang sama.

Dulu, setiap pulang ke kampung halaman di Pare-pare. Saya sering mengomel tak henti, mendengar kokokan panjang  puluhan ayam ketawa peliharaan ayah. Kecintaannya pada unggas bersuara mendayu ini, membuat kepala saya pening saban subuh, siang dan sore. Suara ayam-ayam ini nyaring keras, melengking tinggi dengan intonasi  mendayu yang sangat panjang. Bisa Anda bayangkan, jika tidur lelap ini harus terhenti, atau rasa kantuk ini harus tertahan karena keributan ayam-ayam bertubuh bangkok ini. Kecintaan ayah pada ayam peliharaannya menggiringnya tergabung dalam komunitas pecinta ayam ketawa, yang tergabung di wilayah Ajattappareng. Tiap pekan, nyaris dihabiskannya berkumpul bersama teman-teman komunitasnya di Pinrang. Bagong, adalah nama ayam ketawa jagoan ayah kala itu. Bagong sering dibawanya tiap kali ada pertemuan. Di komunitas itu, mereka saling bertukar informasi, dan berbagi tips mengenai segala tetek bengek permasalahan ayam ketawa.
Komunitas ini rupanya membawa dampak positif  bagi kesehatan ayah. Hari-harinya sangat ceria dan bahagia. Si Bagong, dengan tubuh bongsornya melahirkan pujian bagi siapapun yang melihatnya. Alunan suara kokokan  yang panjang, tubuh yang relatif besar, dan warna merah keemasan yang mengkilap menjadi ciri andalan Bagong. Saya ingat sekali kala itu, beberapa orang bahkan pernah menawari ayah membeli Si Bagong seharga tiga juta rupiah. Namun ayah menolak tegas. Bukan materi yang ingin didapatnya dari memelihara Bagong dan puluhan ayam lainnya. Meski biaya pakan Bagong dan peliharaan yang lain tak sedikit jumlahnya. Tapi kebahagiaan batin yang dirasakan ayah jauh lebih penting. Dan semakin sempurna dengan dia masuk dalam komunitas, yang menghimpun orang-orang yang satu kecintaan dengannya.
Karena ketekunan dan sikap telaten ayah, merawat dan mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya dari diskusi bersama komunitasnya, maupun ajaran dari majalah-majalah. Hasilnya, Si Bagong beberapa kali mendapatkan juara ketika diikutsertakan dalam kontes  ayam ketawa. Televisi dan sebuah sepeda adalah contoh hadiah besar yang diperoleh ayah dari keikutsertaan Bagong dalam kontes.
Mengetahui ini, sepertinya aneh melihat kegilaan seseorang terhadap suatu kecintaannya. Komunitas telah merangsang keingintahuan ayah, untuk terus mengorek informasi sedalam-dalamnya dari apa yang disukainya. Dan alhasil, hal itu  membuat rasa stresnya hilang dan kesehatannya stabil. Karena bergabung bersama orang-orang yang memiliki pandangan dan kegilaan yang sama dengannya. Meskipun, berjalannya tahun membuat keaktifan ayah di komunitas ini mulai berkurang. Karena pada satu waktu, ayam-ayamnya termasuk Si Bagong mati tanpa penyebab pasti. Kesibukan lantas mengubur senyum ceria ayah bersama ayam-ayamnya.  Kesedihannya terasa, sesuatu telah merampas kebahagiaan  kecilnya. Dan komunitas itu, perlahan-lahan ditinggalnya. Meski komunikasi dengan kawan-kawan di komunitas itu masih terjaga baik.  Sekarang, hari-hari ayah pun tak lagi diributi oleh kokokan ayam. Seekor kucing anggora yang telah beranak pinak baru-baru ini, menjadi teman hiburannya setahun terakhir.
Jika kembali pada pandangan masing-masing, apakah kita juga ingin memiliki komunitas yang selaras dengan habitat kita?Yakni bersama mereka yang mempunyai persamaan visi misi dan kebiasaan. Jawabannya pasti beragam. Sebagian orang, ada yang lebih asyik dan enjoy untuk menekuni bidang atau objek yang disukainya seorang diri. Tak penting baginya berbagi informasi, kepada siapapun. Buku, google, atau pengalaman bisa membuatnya lebih mudah menemukan titik kebahagiaannya sendiri. Namun bagi sebagian orang, bergabung bersama komunitas yang memiliki satu kecintaan dengannya tentunya lebih afdol.
 Di samping memperluas ikatan perkawanan dan relasi, juga bisa membuat kita bertukar tips dan mencari solusi atas masalah lain yang dihadapi. Dan sudah pasti berkaitan dengan objek yang kita cintai. Karena setiap kepala tentunya memiliki pikiran dan kecerdasan yang berbeda, jadi wajar kiranya jika komunitas bisa dijadikan tempat belajar yang paling efektif dan efisien. Karena di sana, tidak hanya berbicara teori saja. Karena semuanya adalah subjek, pelopor, dan pelaku yang notabene bersentuhan langsung dengan sesuatu yang kita tekuni. Tentunya banyak informasi yang bisa dipertukarkan dari pengalaman masing-masing anggota komunitas.
Untuk contoh ayah saya. Di mana komunitas pecinta ayam ketawa berhasil membuatnya lepas dari belenggu stress dan sakit. Tawaran materi tak menjadi penting untuk mengorbankan sesuatu yang dicintainya. Sekalipun itu hanyalah seekor ayam peliharaan.  Dan komunitas, dijadikannya tempat belajar dan mencari pemecahan terkait masalah yang dihadapinya. Hingga, si peliharaan bisa tampil menjadi pemenang di kontes-kontes perlombaan ayam ketawa. Kokokan irama  ketawa yang panjang nan mendayu, serta tubuh  yang bongsor tegap berhasil menggaet hati sang juri. Jadilah Si Bagong benar-benar membuat ayah tertawa girang, karena membuahkan hadiah-hadiah yang banyak.
Memang terlihat ganjil dan tidak masuk akal. Setidaknya itu keluhan ibu melihat tingkah ayah yang begitu menyenangi ayam ketawa. Hingga banyak waktunya yang terbuang hanya bermain-main bersama ayam-ayamnya, memberi makan, memandikannya,  menjemurnya di bawah terik matahari, dan melatih pita suara  jagoannya itu. Saya pun sering melihat tawa sumringah ayah,  menghabiskan pagi dan sore di halaman belakang bersama ayam-ayamnya.
Bergabung bersama komunitas pecinta ayam ketawa, akhirnya menjadi wadah positif bagi ayah untuk memperluas pemahamannya mengenai ini. Dan hebatnya lagi, komunitas membuatnya lebih mudah untuk memperkenalkan Si Bagong kepada khalayak  ramai. Hingga mendapat apresiasi dari banyak orang. Meskipun pada akhirnya, kevakuman harus dipilihnya karena tak lagi memiliki Si Bagong. Ayam ini mati disusul ayam-ayam  peliharaan ayah lainnya. Dan kesibukan harus memutuskan frekuensi pertemuannya dengan komunitas, yang nyaris dua tahun menjadi keluarga barunya. Tapi itu tak membuat ayah berkecil hati. Komunitas ideal mungkin tak dirasakannya dalam waktu yang lama. Pembelajaran memang telah terhenti karena kevakumannya. Namun pembelajaran hidup lebih berharga dari itu, bahwa kebahagiaan batin tak bisa dibeli dalam bentuk apapun. Meski hanya bercengkerama bersama komunitas, yang seluruh perbincangannya hanya membicarakan ayam ketawa.

Jumat, 24 Mei 2013

BLOG, Sarana Aktualisasi Diri



Banyak hal yang bisa menjadi bukti eksistensi diri. Medianya menyebar di mana-mana. Dan  Anda bebas memilihnya?Eksis dengan cara alay, memburu sensasi, ataukah memilih cerdas dengan eksis di media  positif. Blog, adalah media yang paling tepat untuk para pemikir-pemikir  yang ingin maju.
Menulis, adalah alasan kenapa saya membikin blog. Mungkin alasan yang sama dengan manusia-manusia lainnya yang juga memiliki website pribadi ini. Ada rasa menyesal yang membuncah karena baru memiliki diary online ini setahun terakhir. Padahal nyaris tiap peristiwa bersejarah dan momentum penting  yang saya alami, terekam jejaknya dalam  simpul-simpul  kata di folder-folder laptop. Maklum, saya paling tak handal dalam menulis fiksi. Entah karena tak suka dengan dunia khayal atau dongeng. Tapi menurut saya, problem dan realitas penting yang saya alami, membuat jemari ini akan lebih mudah menemukan alur dan ujung perjalanannya. Jadilah, seluruh bagian dalam hidup saya, terceritakan dengan baik lewat tulisan-tulisan yang saya museumkan sendiri.
Dulu, saya tidak terlalu berminat membagi tulisan lewat media sosial apapun. Semua tersimpan rapi. Serasa bahagia saja, jika hanya menyimpan dan menguncinya sendiri. Alhasil, jika membacanya sesekali waktu, akan membuat wajah ini melahirkan beragam ekpresi. Terkadang senyum sendiri jika membaca cerita di masa kecil, masa remaja. Ketawa terbahak-bahak jika membaca tentang pengalaman jatuh cinta pertama kali, dan terkadang menangis jika membaca tentang kepergian atau pengkhianatan seseorang. Saya berfikir, semua tulisan itu  adalah gudang cerita perjalanan hidup saya. Atau lebih tepatnya adalah sejarah di masa lampau. Dan sekali lagi, tak ada satu orang pun yang tahu.  
Namun lambat laun pikiran saya sudah mulai terbuka. Seorang sahabat  berhasil mendoktrin pikiran saya. Apa gunanya menyimpan semua cerita seorang diri. Toh kita adalah makhluk sosial, yang sudah seyogyanya berinteraksi dengan banyak orang. Dan bukankah lebih mulia lagi, jika orang bisa mengambil nilai positif atau nilai kebenaran dengan membaca tulisan kita! Apalagi di zaman reformasi ini, semua orang dilindungi negara untuk mengeluarkan pendapat dan berbagi idenya. Tentunya dengan mempertimbangkan  adat ketimuran kita, yang menjunjung tinggi nilai etika dan toleransi. Yakni tidak menyerang unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Saya rasa benar, tidak ada ruginya juga membagi karya tulisan sendiri. Apalagi media sosial sekarang telah menjamur di semua segmen. Saya menyenangi dunia penulisan. Mengagumi beberapa penulis-penulis handal. Dan belajar dari teknik dan gaya penulisan mereka. Kemudian naluri menggerakkan tangan saya untuk menceritakan tiap peristiwa unik yang saya alami. Mungkin hanya sebatas tulisan dari kisah pribadi, dan juga  semacam opini atau ulasan aktual. Tapi setidaknya, menulis akan membuat suara kita akan tersimpan abadi.  Selama-lamanya akan terkenang. Saya sepakat dengan pernyataaan seorang sastrawan besar. Bahwa semua orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Setidaknya itulah prinsip dari Pramoedya Ananta Toer, penulis favorit saya. Yang mendedikasikan sebagian hidupnya untuk dunia penulisan.

Sedikit jujur, saya adalah orang yang sebenarnya gagap teknologi. Tidak terlalu mengambil pusing untuk semua aplikasi-aplikasi teknologi. Apalagi menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop sembari berselancar di dunia maya. Saya benar-benar kaku, tak menganggap blog itu penting dan bisa  menjadi bukti eksistensi diri di tengah teman-teman yang  alay (Baca: Kekanak-kanakkan). Meskipun, koleksi tulisan saya hanya terpigura manis di folder-folder saja. Hingga seorang sahabat pecinta sastra, yang memiliki ratusan tulisan dalam bentuk essai, puisi, cerpen, yang sedikit me-modernkan pikiran saya dengan menyarankan untuk membuat blog. Saya pun akhirnya membuat blog melalui petunjuk-petunjuk singkatnya. Hingga akhirnya bisa memiliki blog sederhana ini. Media penyaluran hobby saya pun telah di genggaman. Yang artinya, saya bebas menulis apapun yang tersirat di benak dalam buku harian cantik ini.
Ada rasa cemburu jika melihat tampilan cantik dan berkualitas blog-blog orang lain atau para penulis terkemuka. Kenapa tidak sedari dulu saya memiliki blog. Kesibukan benar-benar telah membutakan saya untuk aktif di dunia positif ini. Tapi lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali. Pun ada kebanggaan tersendiri, jika menyadari kebiasaan menulis saya tak bisa dilakukan oleh semua orang. Setidaknya itulah yang saya sadari, jika melihat apresiasi dan ekpresi kagum para teman dan sanak keluarga yang sempat mampir di blog pribadi saya.
Seandainya saya tidak nge-blog? Saya akan terlihat bodoh oleh diri saya sendiri. Menjadi orang yang tidak jujur dengan kata hati sendiri. Tidak cerdas membaca fenomena terbaru yang ada. Tidak kritis menganalisis realitas yang ada. Dan seandainya saya tidak nge-blog? Saya akan menjadi seorang pegawai kantoran, yang hanya memikirkan tugas, kerja, dan tanggung jawab di kantor. Tidak mendapat media hiburan lain yang bisa mengembangkan potensi positif lain yang saya miliki. Yang tentunya bisa mengembangkan pencapaian otak kanan saya. Dan seandainya saya tidak nge-blog? Dunia saya semakin hari akan semakin sempit. Karena cakrawala pemikiran saya hanya terbatas. Sementara dunia ini begitu luas, untuk mencari titik kebahagiaan yang lain. Seperti bahagia saya yang akhirnya bisa memiliki blog pribadi.
Untuk sampai pada tatanan  bahwa blog bisa menjalarkan ikatan perkawanan saya, rasa-rasanya efeknya belum terlalu signifikan. Karena kevakuman saya untuk menekuni serius bidang ini. Dan umur blog saya masih seumur jagung. Beruntung, menjadi peserta dalam Lomba Menulis yang diselenggarakan Komunitas Blogger Anging Mammiri Makassar, sedikit  membuat  waktu saya tersita di sana. Dikejar deadline tiap minggu untuk mengejar setoran tulisan, rasa-rasanya memberi tantangan tersendiri di tengah kesibukan yang mencekik. Berupaya menjalin perkawanan dengan orang-orang baru, yang satu kecintaaan dengan saya di dunia menulis, tentunya memberi warna tersediri juga. Meskipun  saya belum pernah bertatap muka langsung dengan peserta lomba dan anggota komunitas ini. Semoga hari-hari ke depannya kita bisa dipertemukan dalam satu waktu dan kesempatan.
Selagi masih muda, mari mengaktualisasikan diri dengan hal positif. Salah satunya dengan memiliki blog pribadi. Konten yang bisa ditawarkan pun beragam. Kita bisa memosting jepretan hasil-hasil  foto. Atau mengekspos buah karya tulisan, membuat game, atau menjadikannya tempat berbisnis. Tergantung dari bakat dan potensi yang kita miliki. Seperti saya yang merasa tetap  eksis dan up-datedengan nge-blog. Tentunya di samping alasan utama, yakni menyalurkan suara hati sejujur-jujurnya. Biar tetap terukir dan terekam abadi. Seperti itulah kecintaan saya terhadap dunia blog. Untuk aktualisasi diri, dan untuk membuktikan kalau saya benar-benar berfikir. Selamat nge-blog!!!

Sabtu, 18 Mei 2013

Tentang Dua Sisi Kehidupan



                  Seperti dua sisi mata uang, seperti itulah lakon hidup kita.
 
            Pernahkah Anda merasa dunia ini sangat bersahabat ? Dan ada titik tertentu, Anda merasa dunia ini sangat tidak adil atas segala balasan dari pengharapan Anda! Seperti itulah lakon hidup kita. Sebab sedih dan senang punya masanya sendiri. Dan kata pergi dan kembali, punya waktu dan tempatnya sendiri.
   Waktu terus berputar, seperti roda yang akan terus berjalan dan tidak statis. Setiap dari kita tentunya mengalami pula fase berputar dalam perjalanan hidup, seperti roda. Kadang di atas, kemudian berganti di bawah. Kadang dengan senang hati melewati jalan mulus, dan kerap pula mendongkol melewati jalan berliku nan berkerikil. Ini manusiawi. Sebab kita bukan pangeran atau permaisuri di cerita dongeng, yang berkelimpahan nikmat tanpa merasakan peluh derita.
Seorang presiden, bahkan raja sekalipun. Tentunya memiliki seabrek persoalan yang lebih menggunung. Di satu sisi, kursi sebagai orang nomor wahid di negerinya tentunya mendatangkan popularitas, penghormatan yang tinggi, serta pundi-pundi rupiah yang fantasis. Tapi di sisi lain, tak banyak yang ingin mencari tahu apa di benak petinggi negeri ini saban waktunya. Selain dihadapkan pada persoalan pribadi keluarga. Ada ratusan juta nyawa yang bertumpu di tangannya. Atas penghidupan yang layak dan kesejahteraan yang berkeadilan. Tanggung jawab moral harusnya sebagai landasan untuk bekerja lebih baik, berpikir secara skematis, bagaimana menelurkan kebijakan yang tepat guna untuk satu wilayah yang dinamakan negara maupun republik. Belum lagi jika semua sistem (baca: kabinet pemerintahan) amburadul dan tidak komit akan nasib rakyat. Menambah daftar kepusingan Pak Presiden tentunya.
Itu sekelas presiden, yang semua kebutuhan maupun keperluan sandang dan pangannya telah jelas-jelas terpenuhi. Bagaimana dengan nasib rakyat jelata di bawah kolong langit ini. Para pedagang kaki lima, pedagang asongan, tukang sayur, tukang semir sepatu, supir mikrolet, mbak jamu, buruh pabrik dengan upah di bawah UMR, tukang becak, dan beragam profesi kelas bawah lainnya. Nasib memang tidak semua sama. Begitupun persoalan pelik yang menghadang. Pasti menggerogoti hari-hari kita. Dan rasa sukacita pun pasti akan hadir silih berganti dari masalah yang timbul. Saya teringat lirik lagu Dewa 19 yang sangat laris di zamannya. “Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti, usah kau menangisi hari kemarin”. Lirik lagu ini sangat sederhana. Namun jawabannya ada di sini. Tiap masalah yang di hadapan mata maupun yang telah berlalu, tak usah ditangisi datangnya. Karena memang hidup adalah perjuangan. Jika tak mau berjuang, maka teruslah berbuat kesalahan dan teruslah  menangisinya. Seperti itulah mungkin kurang lebih maksud dari pesan bijak Dewa 19.
Seorang teman pria pernah mengeluh ke saya. Bosan dengan hari-harinya saat ini. Pekerjaan ‘baik’ yang tak kunjung datang, kesepian yang kini jadi teman, hidup yang mulai stagnan dan menjemukan, dan kondisi sekeliling yang tak bersahabat, keluarga yang menuntut banyak akan  gelar ‘ sarjana’ nya, dan banyak lagi. Menurutnya hidup tidak adil. Mengapa ada orang yang dengan mudahnya meraih pintu sukses. Mengapa ada orang yang tak sempat merasakan getirnya kesusahan, lantas tiba-tiba berdiri sebagai ‘orang mapan’. Sementara dirinya terlunta-lunta ke sana ke mari belum juga menemukan pintu rezky. Itu sering dikeluhkannya.
Sebagai teman yang mengharapkan kebaikan untuknya, tentunya saya hanya menimpali senyum. Sambil terus memberikan dukungan dan semangat. Hidup memang tidak akan adil, untuk orang-orang yang berpikir sempit. Dan memandang dunia ini hanya sebatas satu sisi saja. Padahal ada  sisi lain yang kadang memang tak dapat ditembus oleh nalar kita. Di sanalah campur tangan Tuhan berada. Karena hidup adalah perjuangan. Kepada orang-orang yang secepat kilat meraih sukses tanpa ada jalan setapak kesusahan dilaluinya. Percayalah,  ada ujian-ujian lain yang akan mengetesnya. Apakah dia bisa bertahan, atau matisecara perlahan-lahan.
 Tidak ada satu orang pun  di muka bumi ini yang menjalani hidup, tanpa memakan apa yang dinamakan masalah. Dan jika bijak menyikapinya, maka sesungguhnya kamu telah mengerti arti hidup. Teruslah berjuang, dan jangan sekali-kali berpikir apa yang kamu kerjakan akan sia-sia. Seperti itulah kecerewetan-kecerewetan saya mengkristalkan rasa pesimis dan putus asanya. Semoga kawanku ini kelak  mendapatkan apa yang dikejarnya.
Orang sebesar Dahlan Iskan saja, seorang petinggi negeri yang memberi banyak tauladan dari kejeniusannya di bidang teknologi listrik, meraih sukses dengan jalan yang tak disangka-sangka banyak orang. Terlahir di sebuah kampung kecil di Magetan, Jawa Timur, Dahlan harus merasakan lengan-lengan kemiskinan  begitu bengis merengkuh masa kecil dan remajanya. Di saat teman-teman lain, mampu merasakan nikmatnya beralaskan sepatu ke sekolah. Malah dia mengubur rasa kecil hatinya dengan terus  belajar, tanpa beralas kaki ke sekolah. Demi sebuah tekad  yang ingin dicetak, yakni prestasi. Dan di puncak karirnya, Dahlan sempat dihadapkan pada kesedihan yang luar biasa. Maut menari-nari di depan matanya kala dokter memvonius penyakit kanker hati bersemayam di raganya. Beruntung, sebuah operasi transplantasi hati berhasil menyambung  semangat hidupnya hingga kembali berkarya dan mengabdi sebagai Menteri BUMN.
Hidup itu memang misteri, tak akan ada yang tahu apa yang terjadi esok hari. Kita tidak boleh terpaku pada satu sisi realitas saja. Karena Tuhan menjanjikan kebahagiaan untuk orang-orang yang gigih memperjuangkan hidupnya, dan menikmati setiap masalah yang diberikan sebagai bagian untuk proses konstruksi diri menjadi lebih berkualitas. Cuma terkadang, seperti kawanku itu. Kita kerap mengeluh  bahwa  semua usaha yang tak berbuah hasil,  kita anggap sia-sia dan tak dinilai oleh Sang Pemberi Rezky. Padahal bisa jadi, ada hal yang lebih besar dipersiapkan Tuhan untuk kita tuai hasilnya kelak.
Mungkin kawanku itu sudah bosan-bosan  mendengar celoteh saya. Berjuang, berjuang, dan jangan menyerah. Tidak ada yang sia-sia di muka bumi ini jika kita bisa mengambil pelajaran  dari tiap peristiwa. Jangan memandang semua masalah hanya satu sisi saja. Barangkali esok, sisi lain akan memperlihatkan kita terhadap kenyataan yang kita harap. Seperti yang dialami seorang Dahlan Iskan. Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah pesan dari ilmuwan dunia, Albert Einstein. Bahwa hidup ini seperti mengendarai sepeda. Agar tetap seimbang, maka kita harus selalu bergerak dan bergerak. Dan hidup tidaklah statis. Kenyataan akan selalu menghadapkan kita pada dua sisi yang berbeda, kawan! Selamat berjuang.




               

Kamis, 09 Mei 2013

Keluarga, Sumber Segala Cinta



                Cinta adalah  kasih yang  mengalir tanpa pengharapan apapun. Tengoklah di sekelilingmu, apakah ada yang menawarimu jutaan kasih yang berlimpah, selain keluarga? Cinta pertama saya ada di sini. 
               Bagi sebagian orang, cinta pertama kerap diartikan sebagai perasaan ‘menggila’ terhadap lawan jenis. Bisa jadi, dia yang pertama menghadirkan pelangi di hari-harimu, ataukah dia sebagai orang pertama yang merubah hari-harimu menjadi lebih cerah, positif, dan penuh gelak tawa.  Mengisahkannya, terasa semua memoar terbuka lebar untuk melukis tentangnya.
         Tapi bukan itu yang hendak saya bagi. Cinta pertama saya adalah mereka yang berani mempertaruhkan apapun, sekalipun itu nyawa, agar  dapat melihat gurat-gurat bahagia di wajah saya melekat manis. Cinta pertama saya  di dunia ini tertuju kepada sosok-sosok teduh sang penyelamat hidup. Bagaimana tidak! Tuhan menciptakan kita di dunia ini tidak sebatang kara. Ada tangan-tangan malaikat yang meniup roh dan nafas kita, yang tadinya tidak beraturan menjadi normal. Tangan-tangan itu, kemudian menjadikan kita yang tadinya nihil (tak terbentuk), menjadi terisi dan terbentuk sempurna. Tangan-tangan itu tidak hanya mengasuh, merawat, atau menunjuk. Tapi menggiring ke pintu-pintu kebaikan. Di sanalah muara cinta saya tergenang. Keluarga, tempat cinta pertama itu bersemi!
                     Saya dibesarkan dari lingkungan keluarga yang sederhana, tapi dengan pemikiran modernis. Mampu mendombrak pikiran primitif sebagian keluarga. Ibu, adalah perempuan tercantik sepanjang masa. Cantik rupanya, cantik akhlaknya, cantik budinya, cantik setianya, dan cantik pengabdiannya. Di sampingnya adalah seorang ayah tertampan sepanjang zaman. Tampan rupanya, tampan jiwanya, dan tampan semangatnya. Seorang adik laki-laki menjadi teman bermain sepanjang hidup. Selisih dua tahun, membuat selera muda kami, sama dalam banyak hal. Dia menjadi navigator handal dalam banyak peluang pentingku. Tapi tak jarang menjadi sasaran empuk untuk keegoisanku. Atau menajadi doraemon yang kerap kumintai kantong pertolongan. Kami berempat adalah mata rantai cinta. Dan rumah, adalah museum dari segala rasa cinta yang dititipkan Tuhan untuk kami pelihara, tumbuhkan, dan jaga keawetannya.
               Sejak kecil, kami dididik untuk berjiwa mandiri dan memegang amanah. Tidak tergantung sepenuhnya oleh orang lain. Meskipun hanya memiliki dua orang anak, ayah tidak memberikan fasilitas berlebih kepada kami. Semua serba terbatas dan harus bernilai guna. Nilai kejujuran pun telah dibiasakan sejak dini kepada kami. Uang jajan misalnya, beliau hanya meletakkan begitu saja segopok uang ribuan yang selalau berwujud ‘baru’. Sisa kami sendiri mengambilnya sesuai kebutuhan jajan per harinya, dan mesti ada yang tersisa untuk dicelengangkan . Begitupun terhadap rasa syukur kita kepada Sang pencipta. Tak boleh melewatkan setiap lima waktu untuk shalat. Dan berbagi rezky  dan ilmu kepada saudara-saudara dan keluarga yang bernasib kurang beruntung.
                Sosok kharismatik ayah begitu melekat hingga usia dewasaku. Ajaran-ajarannya menjadi bekal tersendiri kala diri ini tak lagi serumah dengannya. Sejak memutuskan kuliah di Makassar, hingga mampu mencari nafkah sendiri. Kami telah terpisah jauh, meskipun sudah barang tentu waktu libur akan saya maksimalkan untuk berkunjung dan berkeluh-kesah langsung dengannya. Beliau adalah tauladan sepanjang hayat. Sang dermawan sejati di mata keluarga. Masih terngiang-ngiang rasanya, keinginannya agar saya sebagai anak perempuan harus berdikari dan jadi kebanggaan keluarga. Dari soal pendidikan, beliau memang memperjuangkan mati-matian gelar pendidikan tinggi untuk saya dan adik. Meskipun, hanya berkantongkaryawan swasta, sebisa mungkin akan berupaya memenuhi semua kebutuhan akademik kami. Sekalipun itu harus mengutang kepada atasannya.
Love My Family

                Saya teringat enam tahun silam, kala duduk di semester lima. Jarang sekali saya minta barang mewah kepada ayah. Dengan sedikit memaksa, saat itu saya meminta untuk diberikan laptop, guna menunjang kegiatan akademik saya. Tapi, dengan penuh sesal dan tatap mengiba. Beliau jujur tak menyanggupi, karena kebutuhan primer lain masih banyak. Dan adik, dipersiapkan pula untuk mendaftar ulang sebagai mahasiswa baru. Dengan mimik sedih, beliau paparkan agar kiranya saya memanfaatkan jasa warung internet saja dulu, untuk menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan. Ataukah memanfaatkan fasilitas perpustakaan, dan tak boleh sungkan meminjam laptop teman. Yang jelas, prestasi tidak boleh terhambat hanya karena tak memiliki laptop. Permohonan maaf dia ucapkan, untuk ketidakmampuannya memenuhi permintaan saya itu, dan berjanji akan mengusahakan secepatnya. Apakah dengan itu saya lantas marah dan berkecil hati?Tidak.
 Semalaman saya mengurung diri di kamar, tak tega rasanya melihat kesedihan  ayah yang telah puluhan tahun membanting tulang untuk kehidupan kami. Saya sedih bukan karena tak mendapat laptop, tapi sedih karena kesedihan ayah yang tak bisa menyanggupi permintaan anak gadisnya. Saya sudah terlalu sering  merepotkanmu ayah. Dan malam itu, saya berjanji. Tidak akan menuntut barang ‘mahal’ lagi kepadanya. Hingga akhirnya, justru saya mendapatkan fasilitas laptop dari instansi tempat saya bernaung. Selepas sarjana.
                Ibu, dia adalah mata air kesejukan kami. Senyum pertama yang hadir kala nafas pertama ini menyapa dunia. Dialah cinta dari segala cinta. Menyayangi sepenuh hati, dan tak bosan memberikan semangat dan dukungan pada tiap langkah kami. Beliau selalu mengajarkan kami untuk menjunjung tinggi toleransi dan penghormatan kepada sesama manusia. Tak melihat latar belakang dan siapa di hadapan kita. Dengan modal pendidikan yang apa adanya, beliau mampu mencetak kami berdua meraih pendidikan yang lebih berderajat. Setidaknya itulah mimpi kecilnya dulu. Menjadikan kami orang yang berpendidikan dan beradab. Ibu adalah sumber solusi , penawar luka dan gulana saya.
Nyaris tiap keluh kesah saya, diketahuinya. Karena kami memang sebatin, dan saling membutuhkan satu sama lain. Pernah, dia bertandang ke kost- ku. Karena letih dan perasaan capek yang tak tertahankan, saya langsung baring daN tertidur . Setengah sadar, saya mendapati bagian punggungku terasa disentuh oleh sengatan yang sangat mengenakkan. Rupanya beliau sedari tadi memijit seluruh punggung belakangku ketika tertidur pulas. Ya Tuhan, sungguh berdosa saya. Harusnya terbalik,  saya di posisi yang memijat seluruh badannya. Saya pun menampik lengannya, dan malah dibalas oleh anggukan tak keberatan. “Sini saya pijit, pasti kamu capek seharian bekerja,” pintanya. Rasanya seperti seorang putri yang dimanja oleh malaikat cantik. Selalu seperti itu. Pernah saya berkeluh kepada Tuhan, bagaimana jadinya hidup saya jika kedua orangtua ini telah tiada. Membayangkannya saja, rasanya bulir-bulir air mata ini akan jatuh tanpa ada komando.
Memiliki seorang adik laki-laki, menjadi warna tersendiri di hari-hari saya. Sikapnya yang sangat cuek, namun menyimpan rasa cinta yang begitu besar kepada keluarga kami. Reza, demikian namanya adalah saudara sekaligus teman berbagi saya sepanjang hidup. Kami sangat kompak, dalam hal apapun. Mungkin karena kebersamaan yang panjang, menumbuhkan darah persaudaraan kita yang semakin hari makin menyatu. Semasa kuliah, pernah saya sekamar dengannya. Dengan berbagi  tempat tidur bersusun. Kami tidak risih, dan saling mengerti. Ruang yang sempit itu, tak boleh mengalahkan semangat kami untuk menikmati proses menjadi orang ‘besar’ kelak. Seperti cita-cita ayah dan ibu. Untuk beberapa teman pria yang mendekati saya, dia pun kerap memberi penilaian. Harus menjaga jarak atau tak mengambil pusing untuk teman pria yang menurutnya kurang sopan.
Meskipun saat ini, kami terpisah jarak yang sangat jauh. Dikarenakan wilayah pengabdiannya di ujung negeri ini. Namun segala media komunikasi tetap mempersatukan kami. Jika tak ada kerjaaan, kami kerap ngobrol ngalor ngidul  mengisi malam. Dan dibalik sikap cueknya, dia sering menanyakan kabar dan kondisi kesehatan  saya, ayah, ibu, maupun sanak keluarga lain. Kami berempat adalah satu kesatuan cinta yang hakiki. Saling menebar manfaat dan semangat. Dan sudah pasti, akan terus di sisi dalam keadaan suka maupun duka.  Tuhan adalah Sang Maha Cinta dengan segala kebesaran-Nya. Dan cinta saya terhadapnya, akan  sejati dan mutlak sebagai makhluk ciptaan-Nya. Tapi keluarga, saya sampai di bagian bahwa mereka adalah cinta pertama saya. Sebelum saya mengenal cinta-cinta lain yang menawarkan keindahannya. Ayah, Ibu, Reza, saya mencintai kalian tulus. Karena Allah.



               


Kamis, 02 Mei 2013

Karena Pink adalah Pembawa Pesan Damai




              Hidup adalah sejuta warna. Ibarat melukis di atas kanvas, tak akan indah jika hanya satu warna saja yang menonjol. Dan manusia sebagai penikmat seni, merasakan sensasi yang berbeda akan keindahan setiap warna. Semua bersumber dari selera hati. Warna pink bagi saya, adalah pembawa pesan damai.
               Manusia diciptakan Tuhan dengan kantung imajinasi. Olehnya, kita bebas berimajinasi di dalam maupun di bawah alam sadar kita. Kita bebas menentukan kesukaan dan talenta kita pada suatu objek.  Bebas memilih dan jatuh cinta akan setiap karya seni  yang terpampang di depan mata. Warna sebagai bagian dari seni, nyaris mengisi seluruh lingkup kehidupan kita. Merah, kuning, hijau, biru, putih, coklat, ungu, hitam, dan lainnya  memberi kesan dan identitas tersediri bagi para penikmatnya. Sehingga wajar kiranya kita memiliki satu hubungan emosional terhadap warna tertentu.
Begitu besar pengaruh yang timbul dari warna, hingga kerap kita harus berhati-hati dalam  pemakaiannya. Dalam lingkungan sosial kita misalnya, beberapa warna memiliki nilai dan maksud tersendiri dalam penggunaannya. Misal untuk umat muslim, warna hitam kerap diidentikkan dengan warna kedukaan. Semisal, salah satu anggota keluarga meninggal dunia. Contoh lain ialah warna putih, yang kerap dilambangkan sebagai simbol suci dan bersih bagi umat muslim. Ataukah warna merah yang juga sangat disakralkan oleh etnis Tionghoa.
Beragam jenis warna membuat hidup lebih kaya makna. Karena warna kerap diidentikkan dengan khasanah kehidupan. Sebagai simbol, bahwa hidup ini memiliki masa senang dan masa susah. Semua bisa tercermin dari simbol warna. Begitulah, banyak hal yang  bisa diinterpretasiakan dari sebuah warna.
Saya menyenangi semua warna, sebagai bagian dari dinamika hidup saya. Ketika          Bulan Ramadhan tiba, sudah dipastikan warna putih akan merajai seluruh aktifitas saya. Bukan karena hanya pada saat Bulan Ramadhan, saya harus beribadah. Tapi karena bulan ini, adalah bulan paling suci, mulia,  dan berkah diantara kesebelas bulan lainnya. Jadi, sudah dipastikan warna putih yang sarat  akan nilai  religius,  akan  mengisi hari-hari saya pada Bulan Ramadhan .
Namun diantara semua warna yang melengkapi hari-hari saya, pink (merah muda) memiliki tempat tersendiri di ruang imajinasi saya. Sebagian orang kerap memanganggap warna ini adalah warnanya anak remaja, warna manja, atau identik dengan sisi romantisme. Entahlah, tapi ketertarikan saya dengan warna ini bukan karena suatu insiden atau momen tertentu. Semua mengalir secara alami. Ada kenyamanan tersendiri ketika melihat warna ini.
Saya lupa  kapan pertama kali jatuh cinta pada warna ini. Tapi menginjak dewasa, warna pink ini selalu mengisi hari-hari saya. Perpaduan warna merah dan putih ini memiliki kesan feminin yang memesona di mata saya. Sangat anggun dan sejuk kala memandangnya. Setidaknya itulah chemistrysaya dengan warna ini. Beberapa teman biasa usil mengganggu, menganggap kesukaan saya dengan warna pink  sangat bertolak belakang dengan karakter asli saya. Menurutnya, warna pink itu adalah warnanya anak-anak, terutama bocah perempuan. Sangat tidak sesuai dengan karakter asli saya, yang dewasa dan keibuan. Itu celoteh beberapa teman dekat saya. Tapi tak menjadi soal, karena warna itu bagi saya sangat universal. Semua warna menarik, sama halnya tiap sisi di dunia ini menarik. Sisa bagaimana kita mencari dan menemukan sendiri kenyamanan itu. Jatuh  cinta pada sebuah warna merupakan salah satu cara untuk membikin hari-hari kita menarik. Sederhana bukan?
Saya teringat satu kejadian, tatkala berjanji dengan seorang teman untuk bertemu di salah satu pusat keramaian di Tamalanrea Makassar. Entah karena merasa bersalah, telah membuat saya lama menunggu. Dia berinisiatif membeli sebuah boneka kecil berwarna pinkmuda, kemudian menghadiahi saya yang telah dongkol dan bosan menunggu. Dan ketika bertemu, sudah dipastikan ekspresi muka saya yang telah kusut,   akan melunak perlahan-lahan. Kedengarannya enteng, tapi seperti itulah kharisma warna ini di mata saya. Begitu memukau dan menenangkan saja rasanya. Banyak hal yang sebenarnya membuat emosi dan rasa jenuh saya membuncah, namun semua bisa teredam ketika warna ini tiba-tiba hadir menyihir dalam tatapan saya.
 Menyadari keanggunan warna ini, saya pun berinisiatif menyulap tempat pribadi saya, tempat yang paling tepat untuk membuang lelah, tempat yang bisa jadi merupakan museum kesabaran saya, tempat yang sekelilingnya merupakan teman paling  setia dalam berbagi suka maupun duka. Yah, dialah kamar pribadi.  Saya sangat ingin warna pink ini mendominasi kamar saya. Namun sayang, pemilik kontrakan yang merupakan pemilik asli rumah tak mengizinkan kamarnya di polesi warna adem ini. Alhasil, saya  menelan sedikit rasa kecewa. Tak bisa menghadirkan warna ini untuk melengkapi kedamaian yang saya rasakan di kamar.
Beberapa koleksi pink dalam kamar saya.
Kegilaan saya dengan warna ini, tidak lantas mengurangi kekaguman saya dengan warna-warna lain. Jilbab dan kerudung misalnya, nyaris semua warna saya miliki. Demikian halnya dengan pakaian maupun koleksi tas. Semua memiliki keindahan seni tersendiri. Dan kita, sebagai bagian dari dimensi sosial. Membutuhkan warna sebagai bagian dari seni untuk memperkuat jati diri kita.
Wajar kiranya seorang filsuf Jerman, Imanuel Kant mengatakaan, seni ibarat sebuah mimpi. Sebab di dalamnya terdapat rumus yang tidak mampu diwujudkan dalam bentuk nyata. Pink, memiliki magnet tersendiri bagi saya. Melihatnya, serasa semua molekul-molekul yang bekerja dalam pertahanan tubuh saya bersatu padu membawa pesan  bahagia. Kedengarannya berlebihan, tapi seperti itulah adanya efek yang saya rasakan dari warna ini. Mampu menggugah rasa. Di sanalah hebatnya seni dalam kehidupan kita. Tidak ada rumus baku yang mampu menjabarkannya. Walaupun hidup mempunyai konsekuensi untuk stres, depresi, dan emosional. Tapi kita sebagai makhluk Tuhan yang diciptakan dengan akal dan insting seni, bisa menciptakan kedamaian tersendiri untuk meminimalisirnya. Salah satunya dengan jatuh cinta pada sebuah warna.