Perbedaan itu memang ada. Tapi bukankah masing-masing dari kita cenderung merapat dalam persamaan. Persamaan visi misi, bakat, dan kecintaan membuat kita lebih nyaman mengeksplor semua keinginan. Komunitas, adalah wadah paling tepat mencurahkan semua persamaan yang ada. Tak terkecuali, komunitas pecinta ayam ketawa.
Suasana nyaman, bahagia, tentram dan harmonis tentunya menjadi dambaan setiap orang. Atmosfer itu terbangun ketika kita memiliki kesamaan satu sama lain. Tak hanya dalam keluarga, bersatu dengan orang lain dalam sebuah komunitas, akan membuat energi positif kita keluar. Karena dengan ini, kita bebas berimajinasi dalam bingkai kreatifitas yang sama.
Dulu, setiap pulang ke kampung halaman di Pare-pare. Saya sering mengomel tak henti, mendengar kokokan panjang puluhan ayam ketawa peliharaan ayah. Kecintaannya pada unggas bersuara mendayu ini, membuat kepala saya pening saban subuh, siang dan sore. Suara ayam-ayam ini nyaring keras, melengking tinggi dengan intonasi mendayu yang sangat panjang. Bisa Anda bayangkan, jika tidur lelap ini harus terhenti, atau rasa kantuk ini harus tertahan karena keributan ayam-ayam bertubuh bangkok ini. Kecintaan ayah pada ayam peliharaannya menggiringnya tergabung dalam komunitas pecinta ayam ketawa, yang tergabung di wilayah Ajattappareng. Tiap pekan, nyaris dihabiskannya berkumpul bersama teman-teman komunitasnya di Pinrang. Bagong, adalah nama ayam ketawa jagoan ayah kala itu. Bagong sering dibawanya tiap kali ada pertemuan. Di komunitas itu, mereka saling bertukar informasi, dan berbagi tips mengenai segala tetek bengek permasalahan ayam ketawa.
Komunitas ini rupanya membawa dampak positif bagi kesehatan ayah. Hari-harinya sangat ceria dan bahagia. Si Bagong, dengan tubuh bongsornya melahirkan pujian bagi siapapun yang melihatnya. Alunan suara kokokan yang panjang, tubuh yang relatif besar, dan warna merah keemasan yang mengkilap menjadi ciri andalan Bagong. Saya ingat sekali kala itu, beberapa orang bahkan pernah menawari ayah membeli Si Bagong seharga tiga juta rupiah. Namun ayah menolak tegas. Bukan materi yang ingin didapatnya dari memelihara Bagong dan puluhan ayam lainnya. Meski biaya pakan Bagong dan peliharaan yang lain tak sedikit jumlahnya. Tapi kebahagiaan batin yang dirasakan ayah jauh lebih penting. Dan semakin sempurna dengan dia masuk dalam komunitas, yang menghimpun orang-orang yang satu kecintaan dengannya.
Karena ketekunan dan sikap telaten ayah, merawat dan mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya dari diskusi bersama komunitasnya, maupun ajaran dari majalah-majalah. Hasilnya, Si Bagong beberapa kali mendapatkan juara ketika diikutsertakan dalam kontes ayam ketawa. Televisi dan sebuah sepeda adalah contoh hadiah besar yang diperoleh ayah dari keikutsertaan Bagong dalam kontes.
Mengetahui ini, sepertinya aneh melihat kegilaan seseorang terhadap suatu kecintaannya. Komunitas telah merangsang keingintahuan ayah, untuk terus mengorek informasi sedalam-dalamnya dari apa yang disukainya. Dan alhasil, hal itu membuat rasa stresnya hilang dan kesehatannya stabil. Karena bergabung bersama orang-orang yang memiliki pandangan dan kegilaan yang sama dengannya. Meskipun, berjalannya tahun membuat keaktifan ayah di komunitas ini mulai berkurang. Karena pada satu waktu, ayam-ayamnya termasuk Si Bagong mati tanpa penyebab pasti. Kesibukan lantas mengubur senyum ceria ayah bersama ayam-ayamnya. Kesedihannya terasa, sesuatu telah merampas kebahagiaan kecilnya. Dan komunitas itu, perlahan-lahan ditinggalnya. Meski komunikasi dengan kawan-kawan di komunitas itu masih terjaga baik. Sekarang, hari-hari ayah pun tak lagi diributi oleh kokokan ayam. Seekor kucing anggora yang telah beranak pinak baru-baru ini, menjadi teman hiburannya setahun terakhir.
Jika kembali pada pandangan masing-masing, apakah kita juga ingin memiliki komunitas yang selaras dengan habitat kita?Yakni bersama mereka yang mempunyai persamaan visi misi dan kebiasaan. Jawabannya pasti beragam. Sebagian orang, ada yang lebih asyik dan enjoy untuk menekuni bidang atau objek yang disukainya seorang diri. Tak penting baginya berbagi informasi, kepada siapapun. Buku, google, atau pengalaman bisa membuatnya lebih mudah menemukan titik kebahagiaannya sendiri. Namun bagi sebagian orang, bergabung bersama komunitas yang memiliki satu kecintaan dengannya tentunya lebih afdol.
Di samping memperluas ikatan perkawanan dan relasi, juga bisa membuat kita bertukar tips dan mencari solusi atas masalah lain yang dihadapi. Dan sudah pasti berkaitan dengan objek yang kita cintai. Karena setiap kepala tentunya memiliki pikiran dan kecerdasan yang berbeda, jadi wajar kiranya jika komunitas bisa dijadikan tempat belajar yang paling efektif dan efisien. Karena di sana, tidak hanya berbicara teori saja. Karena semuanya adalah subjek, pelopor, dan pelaku yang notabene bersentuhan langsung dengan sesuatu yang kita tekuni. Tentunya banyak informasi yang bisa dipertukarkan dari pengalaman masing-masing anggota komunitas.
Di samping memperluas ikatan perkawanan dan relasi, juga bisa membuat kita bertukar tips dan mencari solusi atas masalah lain yang dihadapi. Dan sudah pasti berkaitan dengan objek yang kita cintai. Karena setiap kepala tentunya memiliki pikiran dan kecerdasan yang berbeda, jadi wajar kiranya jika komunitas bisa dijadikan tempat belajar yang paling efektif dan efisien. Karena di sana, tidak hanya berbicara teori saja. Karena semuanya adalah subjek, pelopor, dan pelaku yang notabene bersentuhan langsung dengan sesuatu yang kita tekuni. Tentunya banyak informasi yang bisa dipertukarkan dari pengalaman masing-masing anggota komunitas.
Untuk contoh ayah saya. Di mana komunitas pecinta ayam ketawa berhasil membuatnya lepas dari belenggu stress dan sakit. Tawaran materi tak menjadi penting untuk mengorbankan sesuatu yang dicintainya. Sekalipun itu hanyalah seekor ayam peliharaan. Dan komunitas, dijadikannya tempat belajar dan mencari pemecahan terkait masalah yang dihadapinya. Hingga, si peliharaan bisa tampil menjadi pemenang di kontes-kontes perlombaan ayam ketawa. Kokokan irama ketawa yang panjang nan mendayu, serta tubuh yang bongsor tegap berhasil menggaet hati sang juri. Jadilah Si Bagong benar-benar membuat ayah tertawa girang, karena membuahkan hadiah-hadiah yang banyak.
Memang terlihat ganjil dan tidak masuk akal. Setidaknya itu keluhan ibu melihat tingkah ayah yang begitu menyenangi ayam ketawa. Hingga banyak waktunya yang terbuang hanya bermain-main bersama ayam-ayamnya, memberi makan, memandikannya, menjemurnya di bawah terik matahari, dan melatih pita suara jagoannya itu. Saya pun sering melihat tawa sumringah ayah, menghabiskan pagi dan sore di halaman belakang bersama ayam-ayamnya.
Bergabung bersama komunitas pecinta ayam ketawa, akhirnya menjadi wadah positif bagi ayah untuk memperluas pemahamannya mengenai ini. Dan hebatnya lagi, komunitas membuatnya lebih mudah untuk memperkenalkan Si Bagong kepada khalayak ramai. Hingga mendapat apresiasi dari banyak orang. Meskipun pada akhirnya, kevakuman harus dipilihnya karena tak lagi memiliki Si Bagong. Ayam ini mati disusul ayam-ayam peliharaan ayah lainnya. Dan kesibukan harus memutuskan frekuensi pertemuannya dengan komunitas, yang nyaris dua tahun menjadi keluarga barunya. Tapi itu tak membuat ayah berkecil hati. Komunitas ideal mungkin tak dirasakannya dalam waktu yang lama. Pembelajaran memang telah terhenti karena kevakumannya. Namun pembelajaran hidup lebih berharga dari itu, bahwa kebahagiaan batin tak bisa dibeli dalam bentuk apapun. Meski hanya bercengkerama bersama komunitas, yang seluruh perbincangannya hanya membicarakan ayam ketawa.


