Kisah cinta Habibie Ainun, boleh jadi membius seluruh lapisan masyarakat saat ini. Hati siapa yang tidak tergugah, melihat kata setia kokoh bertengger hingga akhir hayat. Cinta yang tak pernah luntur termakan usia senja. Dan semangat yang terus bermekaran karena dukungan penuh dari kekasih hati. Buku berikut filmnya yang menceritakan kisah dua sejoli ini, laku keras di pasaran. Berminggu-minggu filmnya masih terpajang manis di bioskop-bioskop kota. Dan antrian panjang penonton yang menembus dua juta orang selama sebulan, menjadi bukti orang-orang tersihir akan romantisme mereka.
Maka menjadi aneh, ketika seorang kawan baik saya malah muak dengan membludaknya film ini. Baginya, buku maupun film Habibie Ainun tak lebih dari ekploitasi berlebih ranah pribadi mereka. Habibie secara tak langsung mengkomersialkan kisah pribadinya, hal yang sangat privasi menurutnya. Dan parahnya lagi, masyarakat Indonesia justru mengapresiasi baik histori percintaan mantan orang nomor satu di negeri ini. Sutradara pun sontak mendapat durian runtuh, film ini barangkali satu-satunya film di Indonesia yang ditonton oleh semua lapisan umur.
Kawanku ini bukan berati tak berperasaan. Dia sangat cerdas dan cukup realistis. Maka, mengenai ketidak sukaannya terhadap film Habibie Ainun, pastilah karena pertimbangan dan alasan yang sangat logis. Di luar negeri, kisah cinta Habibie Ainun sedikitpun tidak terendus. Prestasi dan kejeniusannya- lah jadi tanduk bagi orang-orang besar di negara-negara maju menunduk segan padanya. Habibie menjadi ‘permata’ dunia, terkhusus di Negeri Panser, karena penemuan teori-teorinya di industri pesawat terbang. Berpuluh-puluh tahun ia mengabdi di negeri orang. Beberapa rumusan teorinya dipatenkan dalam dunia pesawat terbang seperti “Habibie Factor“, “Habibie Theorem” dan “Habibie Method yangmampu mencengangkan dunia, terkhusus dunia penerbangan internasional. Prestasi yang membuat rasa nasionalis kita membuncah, berkobar bangga, Indonesia punya asset sebriliant itu. Pikirku, mungkin seperti itulah alibimu menanggapi film ini.
Kita pun berselisih, berdebat. Saya di pihak orang-orang yang tak habis memuji film ini. Dia tetap dengan pandangan mirisnya terhadap film ini. Dan menolak mentah-mentah ajakanku menantangnya nonton film ini, meski dengan iming-iming traktiran makan dan karaokean. Toh apa salahnya juga. “Pak Habibie pun tidak keberatan kisahnya difilmkan!” bela ku sesekali. Tapi kawanku ini memang gadis keras, dia tetap bersikukuh tak berselera menonton film ini. “Andai, para sutradara handal di negeri ini membuat film menyoal riwayat keilmuan dan sepak terjang Habibie di kancah dunia, saya dalah orang pertama yang nonton,” tegasnya.
Namun, pasar tidak bisa berbohong, euforia film ini terbukti mewakili selera masyarakat. Belum tentu, jika ceritanya mengenai riwayat karir Habibie saja, tanpa embel-embel cinta, lalu orang-orang akan berjubel ingin menontonnya. Pertanyaannya kemudian, mengapa kisah kasih Habibie Ainun ini begitu dahsyatnya mengambil ruang special di sanubari penonton Indonesia. Display picture maupun status BBM, Facebook, Twitter, dan media sosial orang-orang disesaki oleh pesan cinta mengharu biru , dan puisi nan romantis dari Habibie. Pasangan beda alam ini sontak dipercaya sebagai ikon cinta sejati. Nyaris mengalahkan kisah dramatis Romeo& Juliet.
Sampai disini, saya mencoba mengkristalkan hasil perdebatan saya dengan sang kawan. Saya menelisik daya kuat film ini yang berakar di kekuatan cinta Habibie. Apakah dengan adanya film ini membuat masyarakat Indonesia mengerti cinta sejati? Apa sebelumnya mereka tidak mengerti!!Apakah komitmen Habibie untuk setia hingga maut memisahkan, menjadi tolak ukur cinta sejati? Lantas, ketika film ini tidak hadir, kemudian kita tidak tahu seperti apa cinta sejati itu?
Kita semua memiliki sisi kedewasaan. Meski takarannya tidaklah sama. Setidaknya mahfum hakikat cinta sejati. Semua hanya berakar pada kesetiaan. Bukan hanya Habibie, kita pun mampu menjadi aktor utama dalam skenario kehidupan kita. Menjadi sang pencinta hingga akhir hayat. Semuanya akan terasa lebih indah bukan? Dan jiwa-jiwa yang mulia terbentuk dari kebiasaan saling mencintai. Inilah yang kelak mengantarkan kita pada titik Kebahagiaan. Bahagia menembus cita-cita dan asa yang telah membumbung tinggi karenanya.
![]() |
| Duka Habibie |
![]() |
| Merakit pesawat |
Inilah yang dipermasalahkan kawanku tadi. Prestasi , kejeniusan, dan segudang karya Bapak Teknologi ini bisa jadi pudar termakan oleh ketenaran kisah cinta di filmnya. Meski, tak bisa dipungkiri kekuatan cinta Habibie Ainun patut diapresiasi dan ditanamkan. Tapi sekali lagi, Habibie adalah legenda dunia. Dan untuk mengisahkannya, tidak cukup hanya dengan barisan pesan-pesan cinta saja.
(31 Januari 2012)
(31 Januari 2012)

