Sebenarnya saya sangat menghindari menulis segala hal terkait ‘persoalan hati’, tapi segala hal tentangmu rasanya mempesona di mataku, hingga tak kuasa jemari ini untuk tidak tergerak mencurahkan segala rasa dan asa yang terpendam. Perpisahan, mungkin bagimu adalah akhir dari jalinan hati kita. Tapi bagiku, justru titik ini adalah awal cintaku semakin menggila dan menggerogoti nyaris semua ruang-ruang gerakku.
Pertemuan pertama kita begitu membekas setahun silam, di sela-sela acara pelatihan oleh instansi tempatku bernaung. Waktu istirahat kemudian kugunakan untuk bertemu denganmu, di salah satu restoran cepat saji di tengah kota Makassar. Dialah Mustafa yang sengaja memperkenalkan kita, teman di satu organisasi. Entah apa yang dibenak Mustafa, hingga berniat mempertemukan kita. Sapa hangat dan senyum manismu mengawali perbincangan kita, perbincangan yang tak kusangka menyeretku pada titik bahagia kemudian hari. Perkenalan dengan teman baru, saya melihat kamu sedikit grogi dan malu ketika pertama kali mata kita berhadapan. Saya sama sekali tidak menaruh hati ataukah kekaguman selepas pertemuan pertama kita, bagiku biasa saja. Tukar cerita mengenai pengalaman kerja, kebiasaan-kebiasaan di kantor, aktifitas selama jadi mahasiswa, terlebih kita adalah teman se-universitas dulu. Kamu sedikit berkelakar, barangkali semasa mahasiswa dulu kita pernah saling bertemu dan berpapasan di koridor-koridor kampus.
Tetapi waktu mempertemukan kita baru pada saat ini saja. Sejak pertemuan pertama dan pertemuan-pertemuan berikutnya, saya melihat tipikal santun pada setiap gerakmu, bersahaja, dewasa, dan terlalu serius diajak ngobrol. Beda dengan beberapa pria lain yang biasa melakukan pendekatan dengan gaya humoris dan gombalnya. Kamu hadir dengan kepolosan, kesederhanaan, dan kebersahajaanmu. Hubungan kita kemudian intens, canda dan perhatian semakin kamu tunjukkan. Hingga saya tersadar kemudian, kalau kamu tak seperti lelaki kebanyakan. Kamu mempesona dengan keindahan akhlakmu, sampai berani saya katakan kepada teman kost-, kalau kamu adalah jelmaan Nabi Muhammad, SAW. Selalu ingat dan mengingatkanku ketika waktu shalat tiba, juga mengingatkan dengan amalan-amalan sunnah lainnya. Meskipun umur kita hanya berselisih dua tahun, tapi kamu selau hadir sebagai penengah dan pemberi solusi jitu untuk tiap masalah yang saya hadapi. Tidak membakar percik amarah ketika saya pada titik emosional, sebaliknya mampu menjadi rem dan pengendali handal ketika saya mengalami kekacauan berfikir dan kekalutan bertindak. Dan mengenai hubungan horisantalmu sesama manusia, saya sama sekali tak meragukannya.
Belum lagi perhatian-perhatian kecil yang kamu tunjukkan. Mungkin sepele, tapi menjadi luar biasa karena saya merasakan ketulusan dan keikhlasan di sana. Dulu, saya sempat berujar kalau orang yang paling tulus dan ikhlas di bumi ini hanyalah kedua orang tua saja. Dan ketika itu saya menyadari, bahwa ternyata ada orang lain yang pun bisa melakukan itu, itulah kamu. Saya sungguh tidak punya satu alasan pun untuk menolakmu, saat kau memintaku untuk ‘membuka hati’ . Hari-hari kita berwarna, sangat indah dan kita saling memotivasi. Dan selama bersama, tidak ada satu pun masalah yang membuat kita berdua tersulut emosi. Sabtu minggu adalah hari kita, itu sudah komitmen.
Pernah, dalam perjalanan ke tempat kost ku di Maros. Saya benar-benar mengalami sakit perut yang hebat. Kemudian bersandar dan meringis kesakitan di balik badanmu. Kamu mengendarai motor dengan laju yang sangat hati-hati. Sesekali menarik tanganku dan memastikan di belakangmu saya baik-baik saja. Maaf, seperti inilah ketika ‘tamu bulanan’ ku datang, tak peduli di tempat dan dalam keadaan apapun, kerap saya tak kuasa merintih menahan lilitan rasa sakit di perut. Memelukmu, mungkin hal konyol yang saya lakukan waktu itu, dan saya pun menangkap kerisih-anmu. Tapi dengan sisi kebapakanmu, tetap kamu mengguruiku untuk minum beberapa vitamin kesehatan dan mengurangi aktifitas yang meletihkan.
Pernah juga kamu mengajakku menonton film anak bangsa yang sangat inspiratif. Film karya Ari Sihasale dan istri yang mengambil latar kehidupan masyarakat Papua dan mengambil lokasi di bagian paling timur di Indonesia, serta diperankan oleh bocah-bocah Papua yang membela mati-matian eksinstensi budaya dan sukuisme mereka. Saya menyuruhmu masuk ke studio lebih dulu, apalagi filmnya telah berjalan lima belas menit. Perjalanan dari Maros ke Makasar terasa begitu jauh karena jebakan macet dan waktu maghrib hampir saja selesai. Saya memutuskan ke mushallah dulu, di bagian belakang mall karena kamu telah shalat sejak dari rumah. Pikirku, dirimu pasti telah asyik menonton wajah-wajah polos anak Papua dengan latar alam yang terkenal akan keindahannya.
Setengah jam berlalu, tanpa ada beban apapun saya melangkah santai memasuki gedung mall, sempat masuk ke beberapa stand pakaian dan stand aksesoris perempuan. Sandal-sepatu dengan tawaran diskon yang gila-gilaan sempat kusinggahi sebelum naik tangga eskalator.
Perasaaan malu dan bersalah seketika menyelinap masuk bersama langkahku di hadapmu. Yah, kamu sama sekali tak beranjak dari tempat pertama kita berpisah tadi. “Yuk kita masuk,”ajakmu. Tak ada rasa gusar ataupun jengkel dari wajahmu. Toh kita kan janjian nonton bareng, bukan saya yang masuk lebih dulu nonton. Dan sangat salah kalau saya mendesak kamu yang sementara shalat. Seperti itu jawabmu ketika kutanyai kenapa tidak masuk lebih dulu. Separuh film telah berlalu, toh kita sudah tidak tahu asal muasal ceritanya. Dengan mimik serius, kamu menceritakan sinopsis film ini yang kamu ketahui dari koran harian. Hingga akhirnya kita bisa menyatu dan mengerti pesan dari film ini. Film selesai, dan kita keluar studio. Saya berjalan gontai, dan masih dibebani dengan rasa bersalah. Hal ini terlihat sepele, tapi tidak bagiku yang sangat benci jika berada di posisi itu, dibuat menunggu lama. Wajar, sampai sini saya menyimpulkan kamu adalah satu dari sekian orang penyabar yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini.
Begitupun saat Bulan Ramadhan tiba, kita kerap saling mengingatkan satu sama lain untuk memanfaatkan waktu senggang dengan bermunajat pada-Nya. Mengharap lipatan pahala di bulan penuh berkah. Kamu bercerita kebiasaanku masak dan melaporkan menu-menu hasil masakanku membuatmu pun berselera memasak makanan yang sama. “Kok saya kalau bikin sambel rasanya aneh-aneh begitu, “keluhmu sesekali. Ya, hidup berdua dengan adik sepupu membuatmu kerap mencoba masak sendiri jika bosan dengan makanan luar. Kamu tak jarang memujiku yang lebih memilih masak sendiri dibanding makan makanan luar. Ketika waktu berbuka puasa atau santap sahur tiba, kita sering bertukar cerita mengenai menu di hadapan kita. Dan kebiasaanmu untuk tak melewatkan satu pun shalat tarawih di mesjid, membuat malam minggu pun kita habiskan dengan ber-tarawih bersama di Mesjid Al-Markas Makassar dan Maros. Semua berjalan begitu indah dan positif, romantisme kita kadang membuatku terhenyak di sepertiga malam, bersyukur bisa dipertemukan dengan laki-laki sebaik dirimu dan meminta kelak dirimu-lah yang direstui Allah.
Serasa saya mengalami mimpi paling jahat ketika hari kedua Idul Fitri, kamu mengirimkan sms. Bukan sms Lebaran atau sms menanyakan alamat rumahku. Seperti janjimu jauh hari di awal kedekatan kita. Momen lebaran akan kamu jadikan alasan untuk mengenal lebih jauh keluargaku di kampung. Bahkan tak sungkan kamu menanyakan hal-hal kesukaan Bapak Ibuku. ‘’Orang tua itu harus dimengerti, jadi ketika ngobrol dengannya, kita harus banyak tahu hal-hal yang disukainya, “ belamu saat kuganggui. Begitupun dengan kucing kesayanganku, Mesy. Kamu sangat ingin menjumpai kucing lucu jenis Anggora ini. Kamu sangat penasaran dan ketawa cekikikan ketika sering kuperlihatkan fotoku dengan hewan manja peliharaan Bapak Ibuku ini. Bukan itu isi pesanmu! Melainkan sms perpisahan, tidak akan ada kebersamaan setelah ini. Kamu memilih menerima tawaran pekerjaan yang sesuai dengan latar pendidikanmu di bidang perkapalan, jauh di seberang sana. “ Saya ingin fokus mengejar masa depan, tidak terganggu dan terikat hal apapun, jodoh biarlah Allah yang mengaturnya,” inti sms mu.
Kamu tahu, pesanmu itu bagai mendengar petir atau deru pesawat tempur yang memekakkan telinga di siang bolong. Kebahagiaan Idul fitri-ku berubah seketika. Rupanya kebahagiaan berkumpul bersama keluarga tak bisa menangkis kepedihanku. Oleh Ibu, mimik muka ini tidak bisa berbohong, beliau menangkapnya. Saya benar-benar lunglai, sesak, dan apalagi bukti kelemahanku sebagai perempuan jika tidak menangis. Tidak ada aktifitas silaturahmi keluar rumah seminggu libur lebaran. Segala janji dengan sahabat batal. Saya memberontak, tidak terima dengan keputusanmu. Puluhan sms bujuk rayu terkirim, mempertanyakan perasaanmu, mengingatkan komitmen kita dulu, ketegasan sikapmu, memohon kita bertemu langsung untuk membicarakan baik-baik permasalahan yang ada, permohonan maafku berulang-ulang saya sampaikan barangkali ada kesalahan yang tidak saya sadari sejauh ini, mengenai keikhlasanku yang akan setia untuk hubungan ‘long distance’, menyayangkan chemistry yang sudah terbangun baik selama ini, saya sungguh tidak ikhlas melepasmu. Bukan karena takut kehilanganmu, tapi karena takut kehilangan semua kebaikan dan agama dalam dirimu.
Sungguh saya akui, diantara sekian lawan jenis yang pernah dekat. Kamu adalah laki-laki pertama yang saya inginkan kelak menjadi imam ku. Sebagai perempuan dewasa, kita bisa merasakan sendiri bukan, orang yang benar-benar tulus dan ikhlas menyayangi kita? Itulah saya kala itu, hilang rasionalitas, tidak menyadari kalau Tuhan selalu punya rencana lain yang lebih indah. Kamu geming, tidak menjawab satupun balasan smsku. Telepon dan segala akses komunikasi sosial kamu tutup. Seolah ingin mempertegas kebulatan tekadmu untuk suatu visi yang hanya kamu sendiri yang tahu.
Dua bulan saya benar-benar hilang kendali, berusaha sekuat tenaga memperjuangkan hubungan kita, mengharap adanya pertemuan, mengemis penjelasan, berharap tiba-tiba kamu berubah pikiran dan kembali seperti dulu. Dan dua bulan itu hidupku pun terasa tersiksa, tersiksa karena kamu sama sekali mengacuhkanku, dan tersiksa karena kesedihan ini saya bawa hingga kantor. Tempat yang tidak tahu apa-apa, tempat yang hanya membutuhkan pengabdianku. Oleh beberapa teman kuketahui, kalau selama dua bulan itu hubungan saya dengan beberapa teman sangat tidak sehat. Saya kerap marah-marah tidak jelas, hilang semangat dan paling parah hilang senyum.
Melukis Rindu
Kini, saya pelan-pelan berhasil menguasai diri. Mulai tersadar, konsekuensi saya sebagai milik negara, kewajiban harus bekerja secara profesional, integritas, dan amanah adalah harga mati. Tidak mencampuradukkan kesedihan pribadi dengan tanggungjwab pekerjaan. Saya benar-benar berjuang untuk itu. Meski sadar, bahwa saya tergolong wanita rapuh dan gampang ambruk jika dihadapkan pada situasi genting. Dan ketika hal ini lagi-lagi terjadi, saya hanya bisa berkeluh kesah dalam setiap sujud. Berharap segalanya cepat membaik. Malam ini, segala bayang kebersahajaanmu kembali menguasa. Melihat memorabilia kita lewat foto-foto kebersamaan. Malam ini, saya kembali merindu. “Aku merindukanmu, setengah mati merindu, tiada henti merindukanmu, masih hatiku untukmu, aku tetap menunggu-mu…”. Suara Indah judika memecah hening langit-langit kamarku.
Kamu tahu! Saya melewati malam-malam yang memilukan. Berminggu-minggu senyumku tertahan dengan perpisahan kita. Saya mengoleksi buku-buku patah hati mencari pembenaran atas kekecewaan ini. Saat pagi mulai menyapa dan saat raga ini mulai meminta haknya untuk istirahat, saya habiskan banyak waktu dulu untuk mendengar lagu-lagu patah hati. Kemudian terbanglah saya dalam mimpi bersamamu. Kerap saya baru tersadar ketika Kak Luna, teman sekost yang sering melarang untuk tidak keseringan berdiam diri di kamar dan terlalu larut dalam kesedihan.
Sudah empat bulan berlalu, dan saya yakini belum ada yang berubah dengan perasaan ini terhadapmu. Masih utuh. Meski segala jenis komunikasi sudah kau tutup lama diantara kita. Tapi kamu tidak pernah tahu, andai seorang Mark Zuckerberg bisa menyempurnakan facebook dengan aplikasi yang mampu mendeteksi siapa-siapa saja yang mengunjungi wall facebook mu. Mungkin saya akan menjadi juaranya. Karena melalui itulah, saya berharap bisa mengetahui kondisi terkinimu, memastikan bahwa beribu kilometer jarak disana kamu baik-baik saja.
Berharap tidak ada lagi bercak-bercak merah dan gatal di sekujur tubuhmu dikarenakan alergi dengan beberapa sea food dan oleh makanan yang tak sempurna masaknya, ataukah alergi dengan detergen tertentu. Ya, kulit putihmu memang sangat sensitif terhadap beberapa unsur. Dan hal ini sering kau keluhkan selama kita bersama dulu. Beberapa salep dan resep dokter tidak mempan jika alergimu itu datang. Semoga saja kekhawatiranku tidaklah terjadi. Pernah saya sampai senyum berganti khawatir menyaksikan foto terbarumu di facebook dengan beberapa teman se-mest di sana. Kamu memegang rokok. Hal yang sebenarnya sangat kamu benci. Saya sangat berharap itu hanyalah akting canda-candaan ataukah gila-gilaan dengan teman se-mest, untuk menghilangkan kebosanan. Semoga. Meski tidak ada lagi komunikasi, tapi saya meyakini beribu kilometer disana, ada rasa sedih yang kau korbankan demi mengejar masa depanmu. Salah satunya berpisah jauh dengan Ibu mu. Sosok yang sangat kamu cintai. Karena untuk mengetahui apakah kamu juga memikirkanku atau tidak. Saya tak berdaya untuk itu. Membuat diri sendiri ge-er pun adalah hal konyol, tidak ada alasan kuat untuk itu.
Malam ini, di tengah rindu saya berbisik lirih. Semoga iklim dan polusi disana tidaklah sekacau di sini. Sehingga kamu benar-benar sehat dalam segala keadaan untuk menjalankan segala aktifitasmu. Semoga kamu tetap seperti dulu. Menjadi jelmaan Nabi Muhammad SAW. Setidaknya itulah yang saya rasakan dulu. Allah memang Maha Pembolak-Balik hati, dulu kita saling menyayangi, sekarang entah apa masih saling atau hanya saya saja yang menyayangi. Bukankah orang bijak berkata, puncak rindu itu bukan ketika kita saling bbm-an, sms-an,telefonan, dan sejenisnya, melainkan saling mendoakan. Saya harap seperti itulah kita. Dan sejauh ini, belum kuat alasanku untuk menerima ajakan beberapa teman pria, mulai dari ajakan dinner berdua dan ajakan menjalin kisah baru. Segala tentangmu masih begitu kuat untuk dilupakan. Tapi sekali lagi, kamu milik Allah SWT. Biarkan rasa ini tersimpan dalam-dalam. Cukup saya melawan kobaran rindu dengan mendoakanmu dari kejauhan. Kita tidak pernah tahu skenario Allah bukan! Mungin saja rasaku ini adalah ujian kesabaran yang bisa jadi menguat atau terkikis perlahan-lahan. (She)
